Ketua tim penelitian kajian itu, Prof. Didah Nur Faridah mengatakan semakin tinggi konsumsi asam lemak jenuh trans, semakin tinggi pula rasio low-density lipoprotein (LDL) dan High-density lipoprotein (HDL) kolesterol dalam tubuh.
“Kita ketahui bersama bahwa peningkatan rasio LDL dan HDL kolesterol itu memicu terjadinya penyakit jantung koroner dan itu sudah banyak penelitian membuktikan hal tersebut,” ujarnya dalam konferensi pers virtual hari Senin (6/5).
WHO selama ini memang telah mendorong setiap negara untuk mengadopsi satu dari dua kebijakan praktik terbaik eliminasi lemak trans. Langkah pertama adalah membatasi kadar lemak trans hingga dua persen dari total kandungan lemak di semua makanan. Langkah kedua adalah melarang minyak terhidrogenasi sebagian (partially hydrogenated oil/PHO), termasuk pelarangan produksi, impor, penjualan, dan penggunaan PHO pada semua makanan.
Hingga saat ini baru 53 negara yang mengadopsi kebijakan praktik terbaik eliminasi lemak trans, termasuk Denmark, yang menjadi negara pertama yang menerapkan kebijakan tersebut sejak 2003.
WHO: Perlu Regulasi untuk Tekan Penggunaan Lemak Trans
Team Lead NCDs and Healthier Population, WHO Indonesia, Lubna Bhatti mengatakan berdasarkan pengalaman WHO dan komunitas global, cara paling efektif untuk menghilangkan lemak trans adalah melalui regulasi. Regulasi dinilai penting dan perlu segera dikeluarkan karena konsumen makanan lemak trans yang sangat tinggi di Indonesia adalah anak-anak.









