WHO Dorong Regulasi untuk Eliminasi Lemak Trans pada Produk Pangan Indonesia

  • Whatsapp
ILUSTRASI - Rasanya enak, harganya murah dan mudah didapat di mana saja. Tapi tahukah Anda kalau gorengan adalah salah satu makanan yang mengandung lemak trans sangat tinggi yang berpotensi memicu penyakit jantung dan stroke?. (AFP PHOTO/Bay ISMOYO)

Ketua tim penelitian kajian itu, Prof. Didah Nur Faridah mengatakan semakin tinggi konsumsi asam lemak jenuh trans, semakin tinggi pula rasio low-density lipoprotein (LDL) dan High-density lipoprotein (HDL) kolesterol dalam tubuh.

“Kita ketahui bersama bahwa peningkatan rasio LDL dan HDL kolesterol itu memicu terjadinya penyakit jantung koroner dan itu sudah banyak penelitian membuktikan hal tersebut,” ujarnya dalam konferensi pers virtual hari Senin (6/5).

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Menurut peneliti dari Pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi Pertanian dan Pangan Asia Tenggara (SEAFAST Center), Institut Pertanian Bogor itu, kajian WHO tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah untuk membuat regulasi yang menekan penggunaan atau konsumsi asam lemak, agar sesuai dengan rekomendasi WHO.

WHO selama ini memang telah mendorong setiap negara untuk mengadopsi satu dari dua kebijakan praktik terbaik eliminasi lemak trans. Langkah pertama adalah membatasi kadar lemak trans hingga dua persen dari total kandungan lemak di semua makanan. Langkah kedua adalah melarang minyak terhidrogenasi sebagian (partially hydrogenated oil/PHO), termasuk pelarangan produksi, impor, penjualan, dan penggunaan PHO pada semua makanan.

FILE - Seorang penjaga toko mengatur makanan ringan untuk dijual di mini market di Jakarta, Indonesia, 15 Februari 2019. (REUTERS/Willy Kurniawan)
FILE – Seorang penjaga toko mengatur makanan ringan untuk dijual di mini market di Jakarta, Indonesia, 15 Februari 2019. (REUTERS/Willy Kurniawan)

Hingga saat ini baru 53 negara yang mengadopsi kebijakan praktik terbaik eliminasi lemak trans, termasuk Denmark, yang menjadi negara pertama yang menerapkan kebijakan tersebut sejak 2003.

WHO: Perlu Regulasi untuk Tekan Penggunaan Lemak Trans

Team Lead NCDs and Healthier Population, WHO Indonesia, Lubna Bhatti mengatakan berdasarkan pengalaman WHO dan komunitas global, cara paling efektif untuk menghilangkan lemak trans adalah melalui regulasi. Regulasi dinilai penting dan perlu segera dikeluarkan karena konsumen makanan lemak trans yang sangat tinggi di Indonesia adalah anak-anak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *