DN – Indonesia mengecam keras serangan militer Israel ke Rafah, kota paling selatan di Gaza yang berbatasan dengan Mesir, dan “penguasaan atas perbatasan Rafah di sisi Palestina,” demikian petikan pernyataan Kementerian Luar Negeri Indonesia melalui X, Selasa (7/5).
Israel Tolak Proposal yang Disetujui Hamas
Serangan Israel tersebut hanya berselang beberapa jam setelah Hamas menyetujui proposal gencatan senjata yang diajukan Mesir dan Qatar.
Namun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang memerintahkan serangan militer itu atas persetujuan Kabinet Perang-nya, pada hari Selasa mengatakan tidak dapat meerima proposal Hamas karena “sangat jauh dari persyaratan yang diperlukan Israel.”
“Israel tidak akan membiarkan Hamas memulihkan kekuasaan jahatnya di Jalur Gaza. Israel tidak akan membiarkan Hamas memulihkan kemampuan militernya untuk terus mengupayakan kehancuran kami. Israel tidak dapat menerima proposal yang membahayakan keamanan warga negara dan masa depan negara kami,” ujar Netanyahu dalam pidato yang disiarkan televisi Israel.
Lebih jauh ia menyemangati tentara Israel yang sedang menuju ke Rafah supaya “terus berdiri teguh” untuk “membebaskan tawanan yang diculik… dan memastikan keamanan Israel.”
Amerika Serika (AS) dan beberapa negara lain telah berulang kali menyerukan Israel untuk tidak menyerang Rafah mengingat keberadaan 1,5 juta pengungsi di sana.
Badan Bantuan PBB Pilih Bertahan di Rafah
Berbicara dari Yerusalem, Kepala Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Gaza (United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/ OCHA) Andrea De Domenico bahkan mengatakan operasi militer itu akan membuat ribuan warga Palestina yang berada di kamp-kamp yang tidak memadai itu semakin menderita.
“Bantuan makanan untuk warga di bagian selatan Gaza itu akan habis pada akhir pekan ini,” ujarnya lirih seraya menambahkan “pertempuran juga kemungkinan akan menutup tiga rumah sakit yang tersisa di Rafah dalam beberapa jam mendatang,” kata De Domenico.








