“Sempat akan kami rujuk yang mana kami sudah menghubungi rumah sakit yang ada di Pemalang dan pada saat itu (rumah sakit lain) sedang penuh-penuhnya. Dokter telah melakukan rujukan ke rumah sakit yang ada kamar ICU untuk anak serta fasilitas CT scan. Tapi rumah sakit penuh semua. Dapatnya di RS Margono,” katanya.
Karena keluarga pasien menolak, lanjutnya, mereka akhirnya minta untuk pulang paksa.
“Dari keluarga pasien juga menghendaki untuk pulang paksa, dan meminta tim kami untuk mengantar. Sedangkan prosedur pulang paksa, kami tidak bertanggung jawab setelah penandatanganan persetujuan tersebut. Tapi tidak jadi pulang paksa,” ujarnya.
Septian juga menerangkan bahwa pihak Rumah Sakit Harapan Sehat Pemalang adalah tipe D dan sudah melakukan penanganan sesuai SOP. Akan tetapi dokter dan perawat ataupun tenaga medis mendapat penganiayaan dari keluarga pasien, selain yang diterangkan kuasa hukumnya saat hendak melakukan tindakan medis lebih lanjut.
“Penganiayaan terhadap dokter dan tenaga medis bahkan karyawan puteri kami yang sedang melakukan pacu jantung melalui proses tadi, sempat ditendang sampai lantai dari bed pasien. Dan info juga ada lebih dari 5 orang yang melakukan penganiayaan terhadap tim nakes dan dokter kami,” pungkasnya. [SIS]








