Badan Kesehatan Dunia (WHO), Senin (6/5) meluncurkan kajian perintis mengenai sumber makanan lemak trans dalam pasokan pangan Indonesia. Kajian ini untuk mendukung penerbitan peraturan pemerintah untuk mengeliminasi lemak trans.
Kajian yang dilakukan Badan Kesehatan Dunia WHO baru-baru ini atas 130 produk pangan Indonesia mendapati bahwa 8,5 persen di antara produk pangan itu mengandung asam lemak trans lebih dari dua persen. WHO membagi pengujian laboratorium atas 130 produk pangan itu ke dalam empat kategori makanan, yaitu minyak dan lemak, margarin dan olesan, makanan kemasan yang terbuat dari lemak (seperti biskuit, kue kering, wafer, kue, dan roti), serta makanan siap saji seperti mi goreng, nasi goreng, ayam goreng, kentang goreng, dan roti.
Kandungan lemak trans lebih dari dua persen ditemukan pada produk yang banyak dikonsumsi seperti biskuit, wafer, cake, produk bakery produksi dalam negeri dan impor, dan jajanan kaki lima. Kandungan lemak trans lebih dari dua persen juga ditemukan pada bahan-bahan yang umum digunakan untuk produksi produk bakery yaitu baking fat dan shortening.
Lemak trans atau asam lemak trans adalah asam lemak tak jenuh yang berasal dari sumber alami atau industri. Konsumsi lemak trans secara signifikan dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan berkontribusi terhadap sekitar 500.000 kematian akibat penyakit jantung koroner secara global setiap tahunnya.









