Anies tidak setuju, dan berargumen “masalah utamanya adalah tiadanya keadilan di tanah Papua.”
Jika terpilih sebagai presiden, Prabowo, yang saat ini merupakan kandidat terkuat, kemungkinan besar akan mempertahankan kebijakan saat ini dan memberikan sumber daya dan dukungan politik kepada aparat keamanan untuk menghabisi pemberontak di Papua.
Tetapi baik Ganjar maupun Anies juga tidak secara jelas merinci pentingnya proses perdamaian atau solusi politik untuk menyelesaikan konflik itu.
Ketika berkampanye ke Papua bulan lalu, Ganjar sedikit menyinggung masalah separatisme atau anti-pemberontakan. Dia hanya berbicara perlunya perbaikan pemerintahan lokal, peningkatan pembangunan ekonomi dan peluang pendidikan.
Di samping situasi hak asasi manusia, konflik di Papua juga punya dampak penting yang melampaui daerah yang bergejolak itu. Sebuah panitia khusus DPR tengah menyelidiki keterlibatan BIN dalam impor ilegal mortar dari Serbia untuk digunakan di Papua.
Sementara itu, pemerintah masih menutup akses liputan bagi media internasional dan masih secara rutin membatasi akses internet.
Mengingat tingginya raihan angka Prabowo di survei – saat ini hampir 38 persen – relasi sipil-militer dan akuntabilitas aparat keamanan menjadi lebih penting daripada pemilihan presiden sebelumnya. [J2/Red]
Zachary Abuza adalah profesor di National War College di Washington dan asisten di Universitas Georgetown. Opini yang dikemukakan di sini adalah pendapatnya sendiri dan tidak mencerminkan posisi Departemen Pertahanan AS, National War College, Universitas Georgetown, atau BenarNews.








