Jajak pendapat terbaru menunjukkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto memimpin dengan dukungan suara lebih dari 40%. Putusan Mahkamah Konstitusi yang kontroversial yang membuka jalan bagi putra sulung Presiden Joko “Jokowi” Widodo, Gibran Rakabuming Raka, untuk mencalonkan diri sebagai wakil presiden bersama Prabowo adalah bukti bagi banyak orang bahwa Presiden tidak lagi netral.
Bahkan sebaliknya, Jokowi tampak aktif mendukung menteri pertahanan tersebut yang merupakan lawannya dalam dua pemilihan presiden sebelumnya.
![231122_ID_cawe-cawe.jpg Para aktivis membentangkan spanduk saat melakukan protes di Jakarta pada 26 Oktober 2023 atas keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengubah peraturan persyaratan batas usia untuk pencalonan presiden/wakil presiden yang memuluskan jalan bagi Gibran Rakabuming Raka, putra Presiden Joko Widodo, menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. [Adek Berry/AFP]](https://www.benarnews.org/indonesian/opini/opini-zach-kandidat-pilpres-2024-11222023125033.html/231122_id_cawe-cawe.jpg/@@images/1ac82c02-5c5e-4ab6-99db-1b1c960a2500.jpeg)
Ganjar Pranowo, mantan Gubernur Jawa Tengah, adalah kandidat yang mewakili Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang merupakan partai dari Jokowi, presiden yang sedang menikmati popularitas tinggi dengan pertumbuhan ekonomi. Kompetisi ini sepertinya akan menjadi ajang dimana Ganjar akan kalah.
Posisi Ganjar dilemahkan oleh campur tangan dan dukungan yang tidak konsisten dari Megawati Sukarnoputri, ketua PDIP, partai yang saat ini berkuasa di pemerintahan. Jokowi, yang berselisihan dengan Megawati dan sepertinya tidak menemukan jalan untuk berdamai, tidak pernah mendukungnya. Jokowi tampaknya lebih tertarik membangun dinasti politik daripada melihat kebijakannya akan berlanjut.
Hal ini semua membuat kampanye Ganjar terbengkalai.
Kandidat ketiga adalah mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Ketiga kandidat berhaluan proteksionisme, pembela nasionalisme sumber daya yang diusung Jokowi, dan bersikap kritis pada persaingan negara-negara besar.
Ketiganya mendukung kuat tradisi politik luar negeri non-blok Indonesia dan mereka berjanji untuk memodernisasi militer. Tanpa memberikan rincian yang cukup, setiap kandidat jelas ingin melakukannya melalui produksi industri pertahanan dalam negeri yang lebih besar.
Namun tidak seperti Jokowi, setiap kandidat berbicara mengenai peran Indonesia yang lebih menonjol di dunia internasional, yang diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi keenam terbesar di dunia dalam lima tahun ke depan.
Karena tidak ada satu pun yang menjabarkan strategi yang jelas, publik harus menganalisa posisi mereka mengenai wilayah maritim dan khususnya posisi mereka terhadap agresi dan klaim berlebihan China di Laut China Selatan untuk dapat mengerti sepenuhnya perbedaan di antara mereka.
Wilayah maritim








