“Pembelian senjata memberi Anda pengaruh,” kata pensiunan pejabat keamanan itu. “Dengan menutup akses terhadap mereka, Anda membuat mereka tunduk pada China.”
Perdagangan dengan Rusia di bidang energi dan bidang lainnya akan membantu “menjauhkannya dari China,” tambah Unnikrishnan, sang analis.
Ekspor senjata Rusia sebagian besar telah stabil sejak gangguan awal perang di Ukraina, yang memicu kekhawatiran mengenai kesiapan operasional India, kata para pejabat. Namun ketakutan tersebut belum sepenuhnya hilang.
“Seiring dengan berlanjutnya perang di Ukraina, hal ini menimbulkan pertanyaan apakah Rusia akan dapat memberi kami suku cadang,” kata Swasti Rao, pakar Eurasia di Institut Studi dan Analisis Pertahanan Manohar Parrikar yang dikelola pemerintah. “Hal ini mendorong diversifikasi.”
“Kebijakan multi-arah India akan terus berlanjut, untuk menjaga hubungan dengan Rusia dan menyeimbangkannya dengan Barat, tetapi distribusinya tidak akan seimbang,” ujar Rao.
Dorongan Rusia
Pada 27 Desember, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, memperkuat upaya untuk mencapai lebih banyak kesepakatan pertahanan dengan India dalam konferensi pers bersama dengan rekan sejawatnya dari India, S. Jaishankar, yang tengah melakukan kunjungan ke Moskow.
Lavrov mengatakan dia berdiskusi dengan Jaishankar mengenai prospek kerja sama militer dan teknis, termasuk produksi senjata bersama. Ia menekankan bahwa Rusia juga siap mendukung tujuan India untuk meningkatkan produksi dalam negeri.
Jaishankar menjawab bahwa hubungan keduanya sangat kuat, dengan rekor perdagangan dua arah, berkat kesepakatan di bidang energi, pupuk, dan batu bara pembuatan baja, namun tidak menyebutkan pertahanan.
Belum ada kemajuan dalam kesepakatan 2015 antara kedua negara untuk bersama-sama membuat helikopter Kamov Ka-226T di India, dengan 200 unit digunakan untuk pasukan pertahanan India.
Sebaliknya, pada 2022, India mulai melantik helikopter tempur yang dibuat oleh BUMN Hindustan Aeronautics.
Persenjataan, mulai dari tank asal Soviet atau Rusia hingga kapal induk dan sistem rudal permukaan-ke-udara, mencakup lebih dari 60 persen perangkat keras militer India.
Mereka bersama-sama membuat rudal jelajah BrahMos dan berencana memproduksi senapan AK-203 di India.
Namun kendala yang ada termasuk komentar Angkatan Udara India tahun lalu bahwa Rusia tidak mampu memenuhi komitmennya dalam pengiriman platform utama yang tidak diidentifikasinya.
Dan terdapat penundaan lebih dari satu tahun dalam pengiriman suku cadang sistem pertahanan udara yang dibeli India dari Rusia seharga $5,5 miliar pada 2018, kata dua pejabat militer India. [Red]#VOA






