Kian Langka, Maskot Flora Kalimantan Timur Jadi Target Utama Pemburu Liar

  • Whatsapp

LAMONGAN | DN – Kekayaan flora dan fauna Indonesia yang eksotis kini tengah menghadapi ancaman serius. Maraknya aksi perburuan liar demi keuntungan ekonomi membuat sejumlah spesies endemik tanah air berada di ambang kepunahan.

Salah satu yang paling terancam adalah Coelogyne pandurata atau yang lebih dikenal sebagai Anggrek Hitam. Flora anggun ini memiliki karakteristik yang sangat unik, yakni perpaduan kelopak dan mahkota berwarna hijau terang dengan lidah bunga (labellum) hitam pekat bergaris hijau berbulu. Tak hanya visualnya yang menawan, bunga ini juga mengeluarkan aroma wangi yang sangat khas.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Spesies langka yang sebarannya terbatas di Semenanjung Malaya, Sumatra, dan Kalimantan ini kini statusnya kian kritis. Sebagai maskot flora Provinsi Kalimantan Timur, populasi anggrek hitam di alam liar mengalami penurunan drastis akibat menyusutnya luasan hutan secara masif di Pulau Borneo.

Saat ini, sisa-sisa populasi anggrek eksotis ini masih dapat dijumpai di Cagar Alam Kersik Luway dan Taman Anggrek Hitam Selimbau yang berlokasi di Desa Gudang Hulu, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Sayangnya, keberadaan mereka di habitat tersisa tersebut tetap tidak aman. Daya tarik estetika yang tinggi membuat oknum pemburu liar terus mengincar bunga ini untuk diperjualbelikan di pasar gelap dengan harga fantastis.

Merespons ancaman nyata ini, pemerintah melalui dinas terkait bersama lembaga penelitian kini tengah memacu langkah konservasi. Salah satu upaya strategis yang ditempuh adalah penerapan metode kultur jaringan. Teknologi ini diharapkan mampu memperbanyak bibit anggrek hitam secara massal dalam waktu singkat, sehingga hasil budidaya tersebut dapat dikembalikan (reintroduksi) ke alam demi memulihkan ekosistemnya yang mulai hilang. [Sat]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *