Menteri LH Bidik Jombang Jadi Pusat Aglomerasi Pengolahan Sampah Berbasis Green Job

  • Whatsapp

JOMBANG | DN – Kabupaten Jombang, Jawa Timur, sukses mencuri perhatian pemerintah pusat lewat inovasi pengelolaan sampah modern berbasis Refuse Derived Fuel (RDF). Sistem pengolahan yang mampu mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif ini dinilai berhasil meninggalkan pola lama dan layak menjadi percontohan nasional.

Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup (LH), Moh Jumhur Hidayat, saat melakukan peninjauan langsung ke fasilitas pengolahan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Banjardowo, Kabupaten Jombang, Rabu.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Menurut Jumhur, Jombang telah berhasil menerapkan sistem pengurangan sampah yang terintegrasi, mulai dari sumbernya hingga ke tempat pemrosesan akhir.

“Ini sebenarnya sudah memenuhi standar-standar pengelolaan sampah yang baik. Tinggal kita sedikit intervensi supaya ekonomi sirkuler bisa berjalan dan memberikan nilai ekonomi yang lebih besar,” ujar Menteri LH di sela-sela kunjungannya.

Ia menegaskan, fasilitas di Jombang tidak lagi mengandalkan metode kuno berupa angkut, timbun, dan buang. Sebagai bentuk dukungan, pemerintah pusat berencana mengirimkan tim ahli guna menghitung skala ekonomi serta mengkaji bantuan teknologi tambahan, termasuk pengadaan mesin RDF untuk mendongkrak kapasitas produksi.

Langkah ini diharapkan mampu mempercepat pasokan RDF sebagai pengganti batu bara di sektor industri semen, sekaligus membuka peluang lapangan kerja baru yang ramah lingkungan.

“Ini sangat ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan bahan bakar batu bara. Jadi ini bagian dari upaya menjaga bumi sekaligus menciptakan lapangan kerja hijau atau green job,” imbuh Jumhur.

Lebih lanjut, Menteri LH juga membuka peluang kerja sama antardaerah lewat konsep aglomerasi. Jika secara kalkulasi ekonomi dinilai layak, daerah di sekitar Jombang dapat mengirimkan pasokan dampahnya ke TPA Banjardowo untuk diolah bersama. Targetnya, skema kombinasi RDF dan ekonomi sirkular ini bisa menuntaskan persoalan sampah nasional dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Di lokasi yang sama, Wakil Bupati Jombang, M. Salmanudin Yazid, menyambut baik rencana intervensi teknologi dari pusat. Ia memaparkan bahwa dari total 500 ton timbunan sampah per hari di Jombang, saat ini 300 ton di antaranya sudah mampu dikelola dengan sangat baik.

“Ini sangat efektif, karena dari 500 ton per hari, 300 ton bisa terkelola dengan baik,” ungkap Salmanudin.

Pihak Pemerintah Kabupaten Jombang berharap penuh agar bantuan mesin RDF dari pusat segera terealisasi. Selain mengoptimalkan sisa 200 ton sampah yang belum terkelola, teknologi ini diproyeksikan mampu mendongkrak pendapatan dan potensi ekonomi daerah dari hasil pengolahan sampah organik maupun non-organik di TPA Banjardowo. [J2]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *