Bukan Mistis! Pagelaran Tosan Aji Ngawi Bedah Nilai Sejarah dan Filosofi 250 Keris Sepuh

  • Whatsapp

NGAWI | DN – Pemerintah Kabupaten Ngawi terus memperkokoh posisinya sebagai kota budaya sekaligus menjaga marwah keris yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda dunia. Komitmen ini nyata terlihat dalam perhelatan Pagelaran dan Bursa Tosan Aji Bhumi Ngawi yang berlangsung selama tiga hari, 16–18 Juli 2026, di Gedung Kesenian dan Pendopo Wedya Graha.

Event kebudayaan ini tidak hanya menjadi ajang pameran visual, melainkan juga ruang edukasi publik untuk mengupas tuntas sejarah, filosofi, serta nilai luhur di balik sebilah keris. Lebih dari itu, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif lokal turut bergeliat lewat kehadiran ratusan kolektor. Tercatat, ada lebih dari 250 bilah keris hasil kurasi ketat yang dipamerkan, disokong oleh 100 meja bursa pusaka yang diisi oleh pegiat tosan aji dari berbagai penjuru daerah.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, menegaskan bahwa status dari UNESCO membawa tanggung jawab besar bagi generasi masa kini untuk menjaga identitas bangsa dari klaim negara lain. Menurut pria yang akrab disapa Antok ini, pelestarian keris harus bertransformasi dari sekadar menyimpannya sebagai benda keramat menjadi pemahaman utuh akan potensi seni dan ekonominya.

“Bagaimana kita memberikan edukasi, konsultasi, hingga workshop tentang keris yang memiliki nilai seni, sejarah, sekaligus ekonomi. Ini membuka peluang baru yang bisa dikembangkan di Ngawi,” ujar Antok saat membuka acara, Kamis (16/7/2026).

Ia menambahkan, Ngawi memiliki modal historis yang kuat dari era Majapahit, prasasti, hingga situs arkeologi yang melimpah. Melalui kegiatan ini, diharapkan generasi muda tidak lagi canggung memaknai keris sebagai aset bangsa.

Senada dengan hal itu, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Ngawi, Wiwien Purwaningsih, menjelaskan bahwa pameran ini sengaja merangkul koleksi tersembunyi milik para kepala desa, camat, hingga warga lokal yang selama ini jarang terpublikasi.

“Kami ingin menggali mutiara lokal Ngawi. Yang kami tampilkan di sini bukan sisi mistisnya, melainkan pamor, dapur keris, nilai sejarah, filosofi, hingga kerumitan proses pembuatannya,” kata Wiwien.

Sebagai langkah konkret regenerasi, panitia menggelar dua sesi sarasehan. Sesi pertama menyasar para pelajar demi menumbuhkan kecintaan budaya sejak dini, sementara sesi kedua melibatkan kepala desa dan pemerhati budaya guna memperkuat sinergi pelestarian.

Ketua Panitia Acara, Fahrudin, mengungkapkan antusiasme peserta tahun ini melonjak tajam. Meski demikian, tim kurator menerapkan standar tinggi demi menjaga mutu pameran. Proses seleksi meliputi pengecekan usia (sepuh), keutuhan fisik, keaslian, hingga kelangkaan pamor.

“Banyak yang mendaftar, tetapi terpaksa kami kembalikan karena belum memenuhi kriteria kurator. Yang lolos ke ruang pameran benar-benar pusaka yang sepuh, utuh, dan bernilai budaya tinggi,” ungkap Fahrudin.

Uniknya, dinamika pameran juga diwarnai cerita sarat emosional. Fahrudin menceritakan ada pemilik pusaka yang sangat protektif hingga memilih mengantarkan sendiri kerisnya dan meminyakinya secara langsung karena enggan pusakanya disentuh orang lain.

Melalui kesuksesan gelaran ini, pihak panitia berharap Bursa Tosan Aji dapat dipatenkan menjadi agenda budaya tahunan yang kian mengukuhkan Ngawi sebagai poros kota budaya di Jawa Timur. [Don]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *