Selain Ikhwan, ada juga Nurhadis, seorang wartawan dari Mina News, yang turut serta dalam misi Flotilla tahun ini. Dia menyatakan bahwa telah beberapa kali meliput di wilayah terkena bencana alam atau bencana akibat perang, termasuk di Myanmar.
Alasan dirinya ikut dalam misi Flotilla ke Gaza tahun ini adalah karena ia ingin turut berperan membantu rakyat Palestina di Gaza melalui liputan berita yang akan dilakukannya.
Meski sudah berkeluarga, istrinya mendukung kerjanya sebagai wartawan dan aktivis kemanusiaan biasa meliput di daerah bencana. Dia mencontohkan dirinya ditugas meliput gempa Lombok selama sebulan meski saat itu anaknya baru berumur delapan hari.
Hadis mengaku termotivasi pula untuk meliput ke wilayah konflik, termasuk Gaza, setelah mewawancarai dua wartawan di Istanbul. Salah satunya adalah seorang wartawan dari Inggris yang turut serta dalam misi Flotilla pada tahun ini meskipun baru saja menikah selama tiga hari.
“Artinya saya merasa masih jauh lah dibandingkan dengan mereka yang ada di Gaza. Sampai sekarang ada 141 jurnalis yang (mati) syahid di Gaza. Mereka perjuangannya lebih besar kalau dibandingkan dengan saya hanya meninggalkan keluarga beberapa hari. Itu jadi motivasi buat saya,” tuturnya.
Ketika berangkat ke Istanbul, dia tidak terlalu banyak menyampaikan kondisi di Gaza dan risiko yang akan dihadapi. Di Istanbul semua relawan kemanusiaan diberi pembekalan tentang kondisi di kapal, kemudian diberikan instruksi apa yang akan dilakukan jika kapal dibajak dan diserang oleh pasukan Israel.
Hadis mencatat bahwa penyelenggara menyelenggarakan pelatihan non-kekerasan yang wajib diikuti oleh semua relawan yang ikut dalam misi Flotilla tahun ini, mengambil pelajaran dari misi sebelumnya pada 2010.
“Di pelatihan itu, kami diberikan bagaimana caranya ketika nanti ditangkap oleh Israel. Bagaimana harus bersikap, tidak boleh melakukan kekerasan dan sebagainya, kekerasan verbal maupun fisik. (Hal ini) supaya tidak memprovokasi Israel untuk melakukan tindakan yang lebih keras,” katanya.
Menurut informasi dari penyelenggara, lanjutnya, perjalanan misi Flotilla dari Istanbul ke Gaza biasanya memakan waktu sekitar 15 jam dalam keadaan normal. Jika kapal tiba di Gaza, penyelenggara memberikan waktu dua minggu bagi organisasi pemerintah dan aktivis lainnya untuk menjalankan kegiatan mereka di sana sebelum kembali ke Istanbul. Nurhadis berharap bantuan kemanusiaan dapat segera disalurkan ke Gaza.
Perang Gaza yang bergejoak sejak 7 Oktober 2023 masih belum mereda. Baru-baru ini, Israel bahkan mengumumkan adanya operasi baru di Rafah. Kementerian Kesehatan Palestina menyebut korban tewas hingga 6 Mei 2024 mencapai 34.735 orang. Di saat yang sama, sekitar 78.108 orang mengalami luka-luka dan sulit mendapatkan pertolongan medis karena sejumlah fasilitas utama telah hancur akibat serangan Israel. [Red]#VOA









