Ketua panitia, Suwandi, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi muara dari seluruh rangkaian acara. “Wayang kulit adalah simbol pelestarian budaya, sedangkan doa bersama adalah ikhtiar spiritual. Gotong royong warga Kebaron membuktikan bahwa semangat kebersamaan tetap terjaga,” ujarnya.
Plh Kepala Desa Kebaron, Nyoto, menambahkan bahwa Ruwah Desa bukan sekadar tradisi, melainkan momentum introspeksi dan penguatan kerukunan. “Pembangunan desa tidak hanya fisik, tetapi juga mental dan spiritual. Melalui doa ini kita berharap Kebaron senantiasa diberkahi, dijauhkan dari bencana, dan hasil bumi semakin melimpah,” tuturnya.








