LAMONGAN | DN – Tidak banyak perwira polisi yang berani membuka pengalaman pribadi dengan jujur, apalagi pengalaman yang menyakitkan. Namun Kapolres Lamongan, AKBP Arif Fazlurrahman, memilih untuk berbagi kisah yang pernah membuat hatinya hancur: dicueki saat melapor kehilangan sepeda.
Kisah itu terjadi enam tahun silam. Arif datang ke kantor polisi sebagai warga biasa, tanpa mengungkap jabatannya. Ia hanya ingin merasakan bagaimana masyarakat diperlakukan ketika melapor. Namun yang ia temukan justru sikap dingin dari petugas piket. “Saya masih berdiri, disuruh duduk saja belum,” kenangnya.
Pertanyaan yang dilontarkan petugas kala itu semakin menusuk hati: “Emang berapa harganya?” Seolah nilai rupiah menjadi ukuran pentingnya sebuah laporan. Bagi Arif, kalimat itu bukan sekadar kata-kata, melainkan cermin betapa pelayanan publik bisa kehilangan empati.








