Memasuki sore hari, kegiatan dilanjutkan dengan ziarah serta kerja bakti membersihkan makam. Rumput liar dipangkas, nisan dibersihkan, dan lingkungan sekitar dirapikan secara bergotong royong. Rangkaian acara ditutup dengan makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Pengelola makam, Jaenuri, menuturkan bahwa tradisi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan pengingat akan perjalanan hidup manusia. “Dalam filosofi Jawa dikenal sebagai Sangkan Paraning Dumadi, yakni kesadaran bahwa manusia berasal dari Tuhan dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya,” ujarnya.








