SpaceX Raup Keuntungan di Indonesia Berkat Kegagalan Peluncuran Roket China

  • Whatsapp
Model Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1) seberat 4,5 ton, yang diluncurkan ke orbit dengan roket Falcon 9 SpaceX pada Juni 2023, ditampilkan di kantor Pasifik Satelit Nusantara, Jakarta, 15 Januari 2024. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

Kementerian Luar Negeri China menanggapi pertanyaan Reuters dengan mengatakan “Perusahaan dirgantara China melanjutkan kerja sama luar angkasa mereka dengan Indonesia dalam berbagai bentuk.” Pernyataan itu tidak menjelaskan lebih lanjut.

Juru Bicara Kantor Kepresidenan Ari Dwipayana mengatakan pemerintah memprioritaskan teknologi yang efisien dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat ketika memberikan kontrak.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Model roket Falcon 9 SpaceX, yang meluncurkan Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1) seberat 4,5 ton ke orbit pada Juni 2023. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)
Model roket Falcon 9 SpaceX, yang meluncurkan Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1) seberat 4,5 ton ke orbit pada Juni 2023. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

Perselisihan antara SpaceX dan China menawarkan peluang menuju pertarungan yang lebih besar untuk mendominasi industri luar angkasa yang berkembang pesat.

Pasar satelit global – termasuk manufaktur, jasa, dan peluncuran – bernilai $281 miliar pada 2022, atau 73 persen dari seluruh bisnis luar angkasa, menurut konsultan AS BryceTech.

China meluncurkan rekor 67 roket pada tahun lalu, dari 223 roket yang diluncurkan secara global, menurut laporan profesor Harvard dan pelacak orbital Jonathan McDowell. Sebagian besar diluncurkan oleh CGWIC.

Hal tersebut menempatkan China di posisi kedua setelah AS dalam hal jumlah peluncuran. AS melakukan 109 peluncuran yang mana sebanyak 90 persen dilakukan oleh SpaceX, demikian menurut laporan tersebut.

Washington dan Beijing juga bersaing dalam jaringan komunikasi berbasis satelit.

Layanan internet satelit Starlink milik SpaceX, yang mengendalikan sekitar 60 persen dari total sekitar 7.500 satelit yang beredar di orbit, mendominasi pasar internet satelit. Namun, pada tahun terakhir, China memulai peluncuran satelit untuk mega-konstelasi broadband pesaingnya, yaitu Guowang.

Pejabat militer AS menyatakan bahwa China berencana memanfaatkan satelit dan teknologi luar angkasa untuk melakukan pengintaian terhadap lawan-lawannya dan meningkatkan kemampuan militer.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *