(DN) – Ketika satelit Nusantara-2 hancur karena roket China yang membawa satelit senilai $200 juta gagal terbang pada 2020, upaya Indonesia untuk memperkuat jaringan komunikasi terpaksa mengalami kemunduran. Namun, siapa sangka insiden tersebut justru memberikan ruang bagi Elon Musk untuk meraup untung.
Elon Musk, pemilik SpaceX, menggunakan kegagalan tersebut untuk menyalip badan usaha milik negara (BUMN) asal Negeri Tirai Bambu, China Great Wall Industry Corp (CGWIC). Perusahaan peluncur roket terkemuka di dunia itu berhasil menjadi pilihan utama bagi Pemerintah Indonesia untuk mengorbitkan satelit-satelitnya ke luar angkasa.
Perusahaan kontraktor China itu sebelumnya memikat Indonesia dengan tawaran manis berupa pembiayaan yang murah, janji dukungan yang luas untuk ambisi ruang angkasa, dan kekuatan geopolitik Beijing. Indonesia sendiri menjadi pasar utama dalam pertumbuhan industri antariksa.
Seorang pejabat senior pemerintah dan dua pejabat industri di Jakarta yang mengetahui masalah itu mengatakan kepada Reuters bahwa kerusakan satelit Nusantara-2 menjadi titik balik bagi Indonesia untuk menjauh dari kontraktor luar angkasa China dan lebih memilih perusahaan milik Musk.
Menurut temuan Reuters, SpaceX berhasil mengalahkan Beijing dengan memadukan sejumlah faktor, yaitu keandalan peluncuran, penggunaan kembali roket yang lebih murah, dan juga membangun hubungan personal antara Elon Musk dengan Presiden Joko Widodo. Setelah pertemuan antara keduanya di Texas pada 2022, SpaceX juga berhasil memperoleh persetujuan peraturan untuk layanan internet satelitnya, Starlink.
Kesepakatan SpaceX menjadi contoh yang jarang terjadi di mana perusahaan Barat berhasil membuat terobosan di Indonesia. Saat ini, sektor telekomunikasi Nusantara masih didominasi oleh perusahaan China yang menawarkan biaya rendah dan pembiayaan mudah. Keberhasilan SpaceX terjadi setelah Indonesia menolak tekanan dari Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan perjanjiannya dengan Huawei, raksasa teknologi China, karena alasan ketergantungannya pada teknologi Beijing.
Sekelumit perubahan peta telekomunikasi Indonesia yang dijelaskan kepada Reuters oleh banyak orang, termasuk sejumlah pejabat di Tanah Air dan AS, pelaku industri dan analis tersebut, belum pernah dilaporkan sebelumnya. Beberapa narasumber berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang berbicara kepada media.
“SpaceX tidak pernah gagal dalam meluncurkan satelit kami,” kata Sri Sanggrama Aradea, Kepala Divisi Infrastruktur Satelit di BAKTI, sebuah lembaga di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Peristiwa kegagalan pada April 2020 membuat Jakarta berada di posisi “sulit” untuk kembali beralih ke CGWIC, tambahnya.
SpaceX, CGWIC, dan Pasifik Satelit Nusantara – pemegang saham utama proyek Nusantara-2 – tidak menanggapi pertanyaan Reuters.








