Terus berkecamuknya perang dan kelaparan akut karena terbatasnya bantuan kemanusiaan yang masuk, membuat warga Palestina di Jalur Gaza kini tidak lagi dapat merayakan Hari Iduladha.
| DN – Musim panas lalu warga Palestina di Jalur Gaza masih merayakan Hari Iduladha sebagaimana mestinya, dengan makan-makan bersama keluarga, membagikan daging kurban pada mereka yang kurang beruntung, dan memberikan pakaian baru atau hadiah-hadiah kepada anak-anak.
Namun, tahun ini, setelah berkecamuknya perang Israel-Hamas selama lebih dari delapan bulan, banyak keluarga yang kini terpaksa hanya makan makanan kaleng di tenda-tenda pengungsian yang penuh sesak. Stok daging hampir tidak ada di pasar lokal. Tidak ada uang untuk membeli makanan atau hadiah. Yang mereka hadapi hanyalah perang, kelaparan, dan penderitaan, yang tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat.
“Tidak ada Iduladha tahun ini,” ujar Nadia Hamouda, yang putrinya tewas terbunuh dalam perang. Hamouda terpaksa meninggalkan rumahnya di bagian utara Gaza beberapa bulan lalu dan tinggal di sebuah tenda di pusat Kota Deir al Balah.
“Yang ada hanya kesedihan, tragedi, mereka yang mati syahid, semua kematian, rasa kehilangan orang-orang yang kami cintai. Kami tidak ada di rumah sendiri. Tidak ada Idul Adha tahun ini,” ujarnya dengan suara lirih.









