Hal senada disampaikan Ahmad Balaawi. “Kami mendirikan tenda untuk hampir 70 orang. Mereka (Israel.red) mengancam kami dan menjatuhkan selebaran agar kami keluar dari Rafah. Yang kami inginkan hanyalah tempat berlindung dan sarana hidup, di sini tidak ada toilet, atau air, atau apapun. Kami hanya ingin berlindung,” ujarnya.
Warga di bagian timur Rafah terpaksa mengungsi ke bagian utara saat pasukan Israel menguasai jalur penyeberangan perbatasan Rafah yang vital di Gaza pada hari Selasa (7/5), dalam apa yang digambarkan Gedung Putih sebagai operasi terbatas. Meskipun demikian kekhawatiran meningkat bahwa Israel akan melakukan invasi berskala penuh ke kota di bagian selatan Gaza itu seiring belum tercapainya kesepakatan dengan Hamas mengenai gencatan senjata dan pembebasan sandera.









