Pengungsi Etnis Chin di Malaysia Tuding Badan PBB Lakukan Penganiayaan

  • Whatsapp
Seorang pengungsi etnis Chin memandang ke luar jendela di apartemen di Kuala Lumpur, Malaysia, 17 Juni 2010. Etnis Chin berdemo di Kuala Lumpur pada 26 September 2024, menuduh badan pengungsi PBB melakukan penganiayaan. (Foto: Saeed Khan/AFP).

Dokumentasi UNHCR juga memberikan pengungsi akses terhadap perawatan medis di rumah sakit umum dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan dengan biaya yang biasanya dibayar oleh orang asing. Namun Aliansi Pengungsi Chin mengatakan bahwa pencari suaka yang tidak memiliki dokumen UNHCR sering kali tidak bisa mendapatkan perawatan medis ketika mereka membutuhkannya.

“UNHCR perlu segera bertemu dengan orang-orang ini dan memberi mereka status dan dokumentasi yang diperlukan,” kata Bik, menyebutkan kasus orang-orang yang mengalami patah tulang dan infeksi serius.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Menanggapi pertanyaan media setelah demonstrasi pada Kamis, badan pengungsi PBB mengeluarkan pernyataan tertulis yang berbunyi: “UNHCR ingin menekankan bahwa kami menyadari rasa frustrasi yang dirasakan oleh banyak komunitas pengungsi yang tinggal di lingkungan perlindungan yang kompleks di Malaysia di mana mereka tidak memiliki status hukum, tidak dapat mengakses pekerjaan legal atau pendidikan formal. … UNHCR melakukan yang terbaik untuk melindungi dan membantu pengungsi. Hal ini termasuk memprioritaskan intervensi perlindungan dan bantuan bagi pengungsi yang sangat rentan.”

Selain itu, Bik mengatakan dia telah menerima laporan tentang penjaga keamanan di luar kantor UNHCR yang meninju dan menendang etnis Chin yang mencoba masuk tanpa membuat janji.

Menanggapi laporan itu, UNHCR mengatakan dalam pernyataan tertulisnya bahwa mereka “tidak memberikan toleransi” terhadap perlakuan semacam ini. Namun, mereka juga mengatakan: “Pada saat ini, kami belum menerima laporan pelecehan apa pun yang dilakukan oleh personel keamanan dari setiap pengungsi dari Komunitas Chin.”

Ketua aliansi tersebut menolak tanggapan UNHCR dan menganggapnya salah. “Kami telah memberi tahu mereka tentang penganiayaan berkali-kali,” katanya.[Red]#VOA