Aliansi Pengungsi Chin mengatakan proses pengajuan pengungsi di UNHCR memakan waktu lama, bisa bertahun-tahun untuk mengambil keputusan.
KUALA LUMPUR, MALAYSIA | DN – Pengungsi etnis Chin dari Myanmar di Malaysia menuduh badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) UNHCR melakukan pelecehan dan tidak memberikan perlindungan yang diperlukan, sehingga berpotensi membahayakan nyawa.
Ratusan anggota Aliansi Pengungsi Chin mengadakan demonstrasi pada Kamis (26/9) di luar kantor UNHCR di Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia.
Orang-orang Chin, yang sebagian besar beragama Kristen, adalah etnis dan agama minoritas di Myanmar yang mayoritas beragama Buddha. Mereka menghadapi penindasan yang menyebabkan konflik kekerasan di sana. Dalam beberapa dekade terakhir, orang-orang etnis Chin telah meninggalkan negara tersebut, banyak di antaranya ke Malaysia.
Data PBB bulan lalu menunjukkan ada sekitar 27.250 pengungsi dan pencari suaka etnis Chin di Malaysia yang terdaftar di UNHCR. Namun James Bawl Thang Bik, ketua Aliansi Pengungsi Chin, mengatakan kepada VOA pada Kamis bahwa ada puluhan ribu lainnya yang tidak terdaftar.








