Konflik dengan Israel menjadi faktor penentu dalam kepemimpinannya. Nasrallah mengumumkan “Kemenangan Ilahi” pada 2006 setelah Hizbullah berperang selama 34 hari melawan Israel. Banyak warga Arab biasa yang tumbuh dengan menyaksikan Israel mengalahkan pasukan mereka, menaruh rasa hormat pada Nasrallah terkait kemenangan itu.
Namun, ia menjadi sosok yang semakin kontroversial di Lebanon dan dunia Arab yang lebih luas seiring dengan meluasnya operasi Hizbullah ke Suriah dan sekitarnya. Hal ini mencerminkan meningkatnya ketegangan antara Iran yang menganut Syiah dan monarki Arab Sunni yang bersekutu dengan Amerika Serikat di Teluk.
Nasrallah menjelaskan keterlibatan Hizbullah di Suriah sebagai upaya melawan para jihadis. Pada saat itu, ia ikut mendukung Presiden Bashar al-Assad. Namun, para kritikus menuduh kelompok tersebut sebagai bagian dari konflik sektarian yang lebih luas di kawasan.
Setelah perang 2006, Nasrallah berada dalam posisi yang sulit dalam konflik baru dengan Israel. Ia mengumpulkan roket-roket Iran untuk menciptakan “keseimbangan teror.”
Perang Gaza, yang dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober terhadap Israel, memicu konflik terburuk Hizbullah dengan Israel sejak 2006, yang mengakibatkan kelompok itu kehilangan ratusan pasukannya termasuk sejumlah pemimpinnya.
Setelah bertahun-tahun terlibat di berbagai lokasi, konflik ini kembali menyoroti perjuangan historis Hizbullah melawan Israel.
“Kami di sini membayar harga atas dukungan kami terhadap Gaza, dan rakyat Palestina, dan penerimaan kami terhadap perjuangan Palestina,” kata Nasrallah dalam pidatonya pada 1 Agustus.
Nasrallah dibesarkan di daerah miskin Karantina di Beirut. Keluarganya berasal dari Bazouriyeh, sebuah desa di selatan Lebanon yang mayoritas penduduknya merupakan penganut Syiah dan kini menjadi pusat politik Hizbullah.
Ia adalah bagian dari generasi muda Syiah Lebanon yang pandangan politiknya dibentuk oleh Revolusi Islam Iran 1979.
Sebelum memimpin kelompok tersebut, ia sering bertempur di garis depan melawan tentara pendudukan Israel bersama para gerilyawan. Putranya yang masih remaja, Hadi, tewas dalam pertempuran pada 1997, kekalahan yang memberinya legitimasi di antara konstituen inti Syiahnya di Lebanon.
Ia juga memiliki rekam jejak dalam mengancam musuh yang berkuasa. [Red]#VOA









