Menanggapi serangan terhadap jaringan komunikasi Hizbullah dalam pidatonya pada 19 September, Nasrallah bertekad akan membalas Israel.
“Ini adalah saat yang akan tiba, dan kita harus mempertimbangkan seperti apa bentuknya, seberapa besar, serta bagaimana dan di mana itu akan terjadi. Tentu saja, ini adalah informasi yang akan kita simpan untuk diri kita sendiri dan dalam lingkaran terkecil, bahkan di dalam diri kita sendiri,” katanya.
Ia belum berpidato lagi sejak insiden itu.
Sementara itu, Israel melancarkan serangan besar-besaran, menewaskan beberapa komandan senior Hizbullah dalam serangan yang ditargetkan, serta melakukan pengeboman secara masif di wilayah Lebanon yang dikuasai Hizbullah, yang merenggut ratusan nyawa.
Nasrallah sering kali diakui sebagai seorang orator karismatik, bahkan oleh para musuhnya. Pidato-pidatonya sering kali menarik perhatian, baik dari pihak kawan maupun lawan.
Dengan mengenakan serban hitam sebagai seorang sayyed, Nasrallah memanfaatkan pidatonya untuk memperkuat dukungan bagi Hizbullah sekaligus menyampaikan ancaman dengan penuh perhitungan. Ia sering kali tampak menggerakkan jarinya untuk mengekspresikan pidatonya.
Ia menjabat sebagai sekretaris jenderal Hizbullah pada 1992 saat berusia 35 tahun, menjadi wajah dari kelompok yang tertutup itu. Hizbullah didirikan oleh Garda Revolusi Iran pada 1982 untuk melawan pasukan pendudukan Israel.
Israel membunuh pendahulunya, Sayyed Abbas al-Musawi, dalam serangan helikopter. Nasrallah memimpin Hizbullah ketika pasukannya berhasil membuat pasukan Israel angkat kaki dari Lebanon selatan pada 2000, mengakhiri pendudukan selama 18 tahun.
Kemenangan Ilahi










