Hubungan dengan “Negara-Negara Global South”
Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai keinginan pemerintah Indonesia untuk bergabung ke dalam BRICS merupakan cerminan dari pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa Indonesia menganut politik bebas aktif. Indonesia, katanya sudah bergabung dengan G20, dan sedang berproses untuk bergabung dengan OECD, dan saat ini menyatakan minat untuk bergabung dengan BRICS. Ia menilai langkah itu diambil oleh pemerintah agar tidak muncul persepsi dari dunia internasional kalau Indonesia itu berat sebelah.
Selain itu, menurutnya langkah ini ia lihat sebagai keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk mempererat hubungan dengan negara-negara global south. David pun sependapat, bahwa dengan masuknya Indonesia ke BRICS akan bisa meningkatkan investasi dan diversifikasi dari sisi ekspor di luar komoditas. Sehingga investasi yang masuk ke Indonesia tidak hanya terkonsentrasi dari negara-negara tertentu saja.
“Dengan investasi itu, timbal baliknya kita juga bisa membuka pasar ekspor yang baru. Jadi di perdagangannya makin intens, karena selama ini memang sektor perdagangan internasional dalam ekonomi kita porsinya tidak besar. Ekspor itu hanya sekitar 20 persen dari total ekonomi atau PDB kita. Yang besar itu konsumsi domestik 60 persen, ini pelan-pelan kita coba naikkan porsi dari investasi dan perdagangan internasional supaya ekonomi kita bisa lebih berimbang,” jelas David.
Pengamat Ingatkan Persepsi Barat Jika Indonesia Gabung BRICS
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkapkan memang dari sisi investasi dan perdagangan internasional akan bisa berdampak baik bagi perekonomian Indonesia apabila kelak bergabung dengan BRICS. Namun, katanya yang perlu diwaspadai oleh Indonesia adalah persepsi dari dunia barat terutama Amerika Serikat.
Apalagi, dalam BRICS ini muncul gerakan untuk menggunakan single currency yang dapat dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap Amerika Serikat. Selain itu, Rusia dan China yang merupakan anggota BRICS tidak memiliki hubungan yang terlalu baik dengan Amerika Serikat.
“Ini yang harus kita jaga juga karena dalam BRICS memang ada kesepakatan yang mana mungkin ini yang harus diantisipasi juga bahwa dunia melihat bahwa BRICS adalah salah satu grup ekonomi yang akan menggunakan single currency yang dikatakan sebagai de-dolarisasi. Apakah ini sebagai suatu action yang bertujuan untuk memiliki motivasi geopolitik ataupun yang berseberangan dengan US atau tidak? Karena di belakangnya ada Rusia yang memang memiliki historis hubungan yang tidak baik juga dengan US, juga ada China,” ungkap Josua.









