Sejumlah pakar memperkirakan Indonesia akan memperoleh berbagai manfaat, apabila kelak bergabung dengan forum kerja sama BRICS yang dibentuk oleh Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan. Namun ada beberapa hal yang harus diwaspadai oleh Indonesia, antara persepsi barat.
Ekonom CORE Indonesia Muhammad Faisal mengatakan memang ada berbagai potensi dari sisi ekonomi yang bisa diraih oleh Indonesia ketika kelak bergabung dengan BRICS yang beranggotakan negara-negara berkembang yang memiliki lingkup perekonomian besar dan berpengaruh cukup baik terhadap tataran ekonomi dan geopolitik global.Negara-negara dalam BRICS, ujarnya, dapat menyuarakan satu kepentingan yang sama. Beda halnya ketika Indonesia bergabung dengan OECD yang di dalamnya beranggotakan negara maju dan negara berkembang yang sudah pasti akan memiliki banyak perbedaan kepentingan.
“Dengan bergabung kepada negara-negara berkembang, plus negara berkembang yang memiliki ekonomi dan pasar domestik yang besar, semestinya paling tidak menurut saya ada satu kepentingan nasional yang memiliki kesamaan dengan kepentingan negara-negara berkembang yang lain yang bisa disuarakan bersama-sama untuk mewujudkan satu tatanan ekonomi global yang lebih adil,” ungkap Faisal ketika berbincang dengan VOA.
Manfaat lain yang bisa dirasakan oleh Indonesia adalah dari sisi perdagangan internasional, mengingat negara-negara anggota BRICS memiliki pasar domestik yang besar. Indonesia, tambah Faisal, berpotensi mendorong penetrasi pasar ekspor yang lebih luas dan kuat.
“Ini juga berpotensi untuk kita melakukan diversifikasi bukan hanya dari sisi perdagangan, tetapi dari sisi investasi. Tentu saja yang saya maksud adalah di luar China dan India, karena kedua negara itu memang sudah menjadi mitra, apalagi China mitra terbesar kita dari sisi perdagangan dan investasi nomor dua. Lalu India juga masuk top 5. Jadi ini ke negara-negara yang lain terutama Brazil, Rusia, Afrika Selatan,” jelasnya.
Meski begitu, Faisal menilai dampak yang terasa belum akan signifikan jika dibandingkan dengan kerjasama bilateral atau multilateral lain, karena kerjasama BRICS tidak bersifat mengikat, hanya sebatas kesepakatan seperti Memorandum of Understanding (MoU). Ia memperkirakan jika kelak Indonesia bergabung dengan BRICS, belum tentu dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga ke level 8 persen.
“Mungkin lebih dari lima persen (iya), tetapi untuk sampai delapan persen agak terlalu jauh. Tetapi kalau efektif, bisa mendorong peningkatan penetrasi ekspor ke negara-negara anggota di dalam BRICS di luar China dan India yang kita memang penetrasinya sudah besar dan juga dari sisi investasi karena untuk bisa mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, kuncinya ada investasi. Apalagi kalau yang ditargetkan adalah sampai delapan persen, itu kita perlu berkali-kali lipat investasi yang masuk. Jadi tidak cukup dengan performa investasi yang sudah ada sekarang,” tuturnya.









