Pada awalnya, sekolah mengajukan proposal untuk melakukan study banding ke sejumlah perguruan tinggi. Namun, dalam pelaksanaannya, perjalanan tersebut lebih banyak diisi dengan kunjungan ke tempat wisata dan pusat perbelanjaan, tanpa adanya kegiatan akademik sebagaimana direncanakan.
“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Study tour idealnya menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar di luar kelas, bukan sekadar ajang rekreasi,” ujar salah satu orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya. Ia juga menekankan bahwa sekolah harus dikenai sanksi administratif berupa pembekuan izin kegiatan serupa selama dua tahun ke depan.








