
Indonesia Kecam Serangan Militer Israel ke Rafah

Sebelumnya Direktur Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (The United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East/UNRWA) di Gaza, Scott Anderson, pada Senin (6/5) memastikan bahwa apapun yang terjadi pasca dimulainya operasi militer di Rafah, pihaknya tidak akan meninggalkan wilayah itu.
“UNRWA – sebagaimana seluruh komunitas kemanusiaan internasional dan PBB – tidak akan pergi dari Gaza. Kami berada di sini untuk menyediakan bantuan pada warga sipil tidak berdosa yang terjebak dalam konflik keji ini. Kami berniat tetap bertahan dan menjalankan tugas menyediakan layanan bantuan yang diperlukan,” ujarnya.
Lebih jauh Anderson menegaskan “kami tidak akan meninggalkan warga Palestina di Rafah. Kami akan tinggal di sini. Faktanya kami akan mengikuti mereka. Saya, khususnya, akan menjadi salah satu orang terakhir yang meninggalkan Rafah ketika semua orang memilih untuk keluar dari kota ini.”
RI Kecam Pemindahan Paksa Warga Palestina
Kementerian Luar Negeri Indonesia dalam pernyataan tertulisnya mengatakan “setiap upaya pemindahan paksa atau pengusiran warga Palestina, termasuk dari Rafah, tidak dapat diterima karena tindakan itu merupakan puncak kejahatan terhadap kemanusiaan.”
Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi telah berulangkali menyampaikan hal ini dalam berbagai forum internasional dan pertemuannya dengan pejabat-pejabat tinggi, termasuk yang terakhir dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Banjul, Gambia, akhir pekan lalu.
AS Yakin Serangan Israel “Operasi Sangat Terbatas”
Berbicara kepada para wartawan dalam sebuah konferensi pers virtual, Selasa (7/5) sore, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS John Kirby mengatakan operasi Israel di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir di bagian timur Rafah bukan sebuah invasi penuh.








