Pada Kamis (7/3), Pemerintah Haiti mengeluarkan keadaan darurat selama sebulan untuk wilayah barat, termasuk ibu kota. Pemerintah Haiti juga menetapkan jam malam hingga Senin (11/3), meskipun sulit untuk melihat bagaimana polisi yang sudah kewalahan dapat menegakkannya.
Warga Port-au-Prince, Fabiola Sanon, mengatakan kepada AFP bahwa suaminya, James, yang berusia 32 tahun, tewas dalam kerusuhan tersebut. Menurut Sanon, James biasanya bangun pagi-pagi untuk mencari uang untuk membeli sarapan bagi putra mereka sebelum mengantarnya ke sekolah.
“James tidak pernah punya masalah dengan siapa pun,” kata Sanon. “Dia penjual rokok biasa.”
Lazarre, juru bicara serikat polisi, memperingatkan bahwa polisi berada di ujung tanduk dan membutuhkan bantuan segera.
“Komando tinggi harus menyediakan sarana dan perlengkapan kepada agen sehingga mereka dapat mengkonsolidasikan gedung polisi dan infrastruktur penting lainnya,” kata Lazarre kepada AFP, Sabtu (9/3).
“Jika kita tidak dapat mengakses kontainer-kontainer tersebut (yang penuh dengan makanan), Haiti akan segera mengalami kelaparan,” LSM Mercy Corps memperingatkan dalam sebuah pernyataan.









