Ibu Kota Haiti Usai Kerusuhan, Tenang Tetapi Masih Genting
Ketenangan yang masih terasa genting menyelimuti Port-au-Prince pada Sabtu (9/3), ketika penduduk terus meninggalkan pusat kota di mana mobil-mobil yang dibakar pada malam sebelumnya tampak masih membara.
Menurut seorang jurnalis AFP di tempat kejadian, suara tembakan terdengar di seluruh ibu kota pada Jumat (8/3) malam, terutama di distrik barat daya Turgeau, Pacot, Lalue dan Canape-Vert.
Warga bergegas mencari perlindungan. Para saksi mengatakan kepada AFP bahwa mereka telah melihat bentrokan “antara petugas polisi dan bandit” ketika geng-geng tersebut tampaknya mencoba menyita kantor polisi di pusat kota.
Kelompok kriminal yang menguasai sebagian besar Port-au-Prince dan jalan-jalan menuju seluruh negeri telah menyerang infrastruktur penting dalam beberapa hari terakhir, termasuk dua penjara, sehingga sebagian besar dari 3.800 narapidana bisa melarikan diri.
Geng-geng tersebut, bersama dengan sejumlah warga sipil Haiti, menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Ariel Henry. Henry sedianya akan meninggalkan jabatannya pada Februari, tetapi malah menyetujui kesepakatan pembagian kekuasaan dengan oposisi sampai pemilu baru diadakan.
Amerika Serikat (AS) telah meminta Henry untuk segera melakukan reformasi politik untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Namun, Henry berada di Kenya ketika kekerasan terjadi dan kini dilaporkan terdampar di Puerto Rico, wilayah AS.








