PEMALANG | DN — Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh aksi perundungan (bullying) brutal yang berujung pada kematian. Seorang siswa kelas 2 Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, dilaporkan meninggal dunia setelah diduga menjadi korban penganiayaan dan pemerasan oleh kakak kelasnya sendiri yang duduk di bangku kelas 5 dan 6.
Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim redaksi MDN, insiden tragis ini bermula saat korban yang berinisial A.b. tengah menikmati waktu istirahat sekolah bersama rekan sebayanya. Secara tak sengaja, korban sempat bersenggolan atau menabrak pundak salah satu terduga pelaku. Meskipun korban langsung menyampaikan permintaan maaf, para pelaku yang diduga berjumlah tiga hingga lima orang dari kelas 5 dan 6 tetap tidak terima.
Menurut keterangan kerabat korban, Danu Erlangga, korban sempat dipalak dan dianiaya secara fisik oleh para seniornya di lingkungan sekolah. Teman sebaya korban yang ketakutan memilih lari menyelamatkan diri saat melihat korban dipukuli.
Akibat penganiayaan tersebut, korban mengalami luka lebam di sekujur tubuh serta sempat mengalami mimisan. Namun, korban sempat membersihkan darah di hidungnya sebelum pulang ke rumah demi menutupi kejadian yang dialaminya.
Pada hari kedua pasca-kejadian, korban tetap berangkat ke sekolah seperti biasa. Sifat korban yang dikenal pendiam membuat ia memilih memendam rasa sakit yang dideritanya. Setibanya di rumah sepulang sekolah, korban mulai mengeluhkan sakit perut yang luar biasa hingga mengalami buang air besar (BAB) berdarah.
Melihat kondisi kesehatan anaknya yang semakin memburuk, pihak keluarga segera melarikan korban ke rumah sakit. Saat menjalani pemeriksaan intensif, tim dokter mendapati adanya luka dalam yang cukup parah di bagian perut akibat hantaman keras atau tendangan yang diduga mengenai organ pencernaan (usus) korban. Berdasarkan keterangan medis dan visum, parahnya perundungan ini memicu komplikasi fatal hingga akhirnya korban dinyatakan meninggal dunia pada malam hari.
Ironisnya, di tengah duka mendalam yang dirasakan keluarga, pihak sekolah diduga sempat meminta agar kasus kekerasan ini tidak diviralkan di media sosial dan berdalih bahwa korban meninggal akibat terjatuh.
Kasus ini memicu gelombang keprihatinan mendalam dari berbagai pihak. Masyarakat dan keluarga mendesak aparat penegak hukum serta Dinas Pendidikan Kabupaten Pemalang untuk turun tangan mengusut tuntas insiden ini secara transparan, guna memberikan keadilan bagi korban serta menghentikan lingkaran setan perundungan di lingkungan sekolah dasar. [SIS]








