Warga Kebulusan Alami Luka Berat di Tangan, Korban Sesalkan Kosongnya Tanggung Jawab Pemilik Proyek Pengurukan

  • Whatsapp
ILUSTRASI: Warga Kebulusan Alami Luka Berat di Tangan, Korban Sesalkan Kosongnya Tanggung Jawab Pemilik Proyek Pengurukan

KEBUMEN | DN – Aktivitas proyek pengurukan tanah di Desa Kebulusan, Kecamatan Pejagoan, Kabupaten Kebumen, menyisakan persoalan pelik bagi warga setempat. Seorang warga berinisial M bersama istri dan anaknya harus menanggung penderitaan fisik sekaligus kekecewaan mendalam setelah mengalami kecelakaan akibat terserempet truk pengangkut alat berat (loader) pada Jumat sore (4/9/2026).

Insiden bermula ketika truk operasional bermuatan berat tersebut melintas di area proyek uruk tanah milik warga berinisial A. Kos. Diduga akibat ruang gerak yang kurang aman di jalur warga, kendaraan besar itu berserempetan dengan sepeda motor yang dikendarai oleh M bersama keluarganya.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Meski nyawa keluarga tersebut selamat, benturan keras tidak dapat dihindarkan. M menderita luka serius dan cedera pada bagian tangan yang mengharuskannya menjalani serangkaian prosedur medis intensif. Hingga saat ini, korban masih dalam masa pemulihan dan diwajibkan oleh tim medis untuk melakukan kontrol rutin setiap pekan ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng.

Di balik perjuangannya melawan rasa sakit, M justru memendam kekecewaan besar terhadap sikap penganggung jawab proyek. Ia mengungkapkan bahwa pihak pemilik proyek atau “bos” yang bersangkutan terkesan lepas tangan dan tidak memiliki itikad baik untuk merealisasikan tanggung jawab yang sempat dijanjikan di awal kejadian.

“Awalnya saat kejadian ada janji untuk bertanggung jawab penuh, tapi kenyataannya sampai detik ini nihil itikad baik. Hanya manis di mulut pada awal saja, selebihnya kami yang jadi korban harus direpotkan bolak-balik menanggung biaya dan waktu untuk kontrol ke rumah sakit setiap minggu,” ujar M saat ditemui di kediamannya, Sabtu (26/9/2026).

Menghadapi situasi ini, korban sangat mengharapkan adanya uluran tangan dan kepedulian dari pihak terkait. Ia mendesak pemilik proyek maupun aparat pemerintah desa setempat untuk segera memfasilitasi mediasi guna menemukan titik terang terkait kompensasi biaya pengobatan serta ganti rugi yang layak.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi para pengusaha maupun mandor proyek agar lebih memprioritaskan aspek keselamatan publik, khususnya ketika mengoperasikan kendaraan berat di jalur atau permukiman yang padat aktivitas warga. [Fandi]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *