Dua anaknya yang lain telah berkeluarga dan tinggal terpisah. Namun, kondisi ekonomi yang sulit membuat mereka tak bisa membantu banyak. Kini, semua harapan Dg. Ranne menggantung pada anak bungsu yang sebenarnya masih harus mengejar pendidikan.
Kisah ini menjadi potret nyata betapa banyak warga miskin di pelosok negeri belum sepenuhnya tersentuh bantuan berkelanjutan. Ketika kebutuhan hidup tetap berlangsung dan hak atas pendidikan terpaksa dikesampingkan, perhatian dan aksi nyata sangat dibutuhkan.
Redaksi MDN mendorong pemerintah desa, dinas terkait, dan para pemangku kepentingan untuk lebih proaktif dalam mendeteksi dan menangani kasus-kasus serupa. Kehidupan layak, terutama bagi lansia dan generasi muda, seharusnya bukan sesuatu yang mustahil—melainkan hak yang patut diperjuangkan bersama. [D’kawang]








