Dg. Ranne sempat terdaftar sebagai penerima bantuan sosial sembako dari pemerintah periode Januari hingga Maret 2025. Namun, selepas itu, namanya tak lagi muncul dalam daftar penerima, meninggalkan kekosongan harapan di tengah kebutuhan yang terus berjalan.
Satu-satunya pekerjaan yang tersisa adalah mengupas jagung milik tetangga saat musim panen. Untuk satu karung, ia hanya menerima upah Rp5.000. Namun pekerjaan itu pun tidak rutin, tergantung musim, dan jelas tak mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau tidak ada jagung, saya cuma duduk. Badan sudah cepat sakit, tidak kuat lagi,” ujarnya sembari menyeka air mata yang tak bisa ia tahan.








