Dapur MBG Buka Lagi, Harga Daging Ayam di Pasar Kedungpring Tembus Rp 39 Ribu per Kilo

  • Whatsapp

LAMONGAN | DN – Harga komoditas daging ayam di Pasar Kedungpring, Kabupaten Lamongan, kembali merangkak naik hingga menembus angka Rp 39.000 per kilogram. Lonjakan harga ini dipicu oleh melesatnya permintaan seiring kembali beroperasinya dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) usai libur sekolah, serta cuaca ekstrem yang mengganggu pasokan dari peternak.

Berdasarkan pantauan di lapangan, harga ayam potong yang semula berada di kisaran normal Rp 35.000 hingga Rp 36.000 per kilogram, kini tertahan di angka Rp 39.000 per kilogram. Kenaikan serupa juga terjadi pada jenis ayam petelur (apkir) yang melonjak ke angka Rp 45.000 per kilogram dari harga normal Rp 41.000 per kilogram.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Salah seorang pedagang di Pasar Kedungpring mengungkapkan bahwa fluktuasi harga ini sangat bergantung pada rantai pasok dan dinamika pasar. “Saat libur sekolah kemarin harga sempat melandai karena aktivitas dapur MBG terhenti sementara. Namun begitu sekolah masuk dan dapur MBG beroperasi kembali, permintaan langsung melonjak tajam. Ditambah lagi cuaca panas terik belakangan ini membuat angka kematian ayam di tingkat peternak cukup tinggi, jadi pasokan ke pasar berkurang,” bebernya.

Kondisi tersebut kian menghimpit daya beli masyarakat, terlebih lonjakan harga ayam ini merembet pada sejumlah bahan kebutuhan pokok lainnya. Beban pengeluaran warga pun semakin membengkak lantaran bertepatan dengan momen perayaan HUT Kemerdekaan RI di bulan Agustus yang kerap membutuhkan biaya ekstra untuk kegiatan sekolah anak-anak.

Waras, seorang ibu rumah tangga asal Kedungpring, mengaku terpaksa memangkas volume pembelian daging dan menyiasati menu harian keluarga agar kebutuhan lain tetap tercover.

“Hidup rasanya makin berat. Bahan pokok naik serentak, padahal bulan Agustus ini pengeluaran lagi banyak-banyaknya untuk kebutuhan anak sekolah ikut acara 17-an. Kalau belanja tidak diirit dan diatur ketat, uang dapur tidak akan cukup sampai akhir bulan,” keluhnya.

Senada dengan Waras, Yuni, warga setempat lainnya juga mengeluhkan minimnya kontrol harga di tingkat pedagang eceran. “Hampir semua komoditas dapur naik bersamaan. Kalau daging ayam mahal, biasanya kita beralih ke telur atau tahu tempe, tapi semuanya ikut-ikutan naik. Kami makin pusing mengatur uang belanja harian,” tambahnya.

Warga berharap dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lamongan segera mengambil langkah konkret, seperti menggelar operasi pasar murah atau intervensi distribusi, guna menstabilkan harga bahan pokok dan mengembalikan daya beli masyarakat. [AR]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *