TUBAN | DN – Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani) Tuban terus memperkuat upaya pelestarian budaya Jawa melalui pendidikan dan pembinaan generasi muda. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Paragan Kridha Laksana (PKL) Tahun 2026 yang diikuti 32 siswa Bregada XV di Aula Padepokan SH Terate Cabang Tuban, Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu, Minggu (21/6).
Kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman menyeluruh sekaligus praktik langsung mengenai tata urutan prosesi, filosofi, serta pakem atau aturan dalam upacara pernikahan adat Jawa. Melalui pelatihan ini, peserta dipersiapkan menjadi generasi penerus yang mampu menjaga, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada masyarakat luas.
Acara tersebut dihadiri jajaran Pengurus DPD Permadani Tuban bersama perwakilan Bregada I hingga XIII. Hadir pula sejumlah organisasi profesi dan pemerhati budaya, di antaranya Harpi Melati Tuban, Katalia Tuban, Tiara Kusuma, serta DPD Masyarakat Adat Nusantara (Matra).
Ketua DPD Permadani Tuban, Indah Sri Hari Peni, mengatakan bahwa PKL merupakan bagian dari proses pembentukan calon pranatacara dan pamedhar sabda yang memiliki kompetensi serta pemahaman mendalam terhadap budaya Jawa.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui teori semata, melainkan harus dibarengi dengan praktik langsung agar peserta memahami makna dan nilai yang terkandung dalam setiap tahapan prosesi adat.
“PKL ini menjadi wadah pembelajaran sekaligus praktik nyata bagi peserta untuk memahami tata urutan, filosofi, dan paugeran upacara pernikahan tradisional Jawa. Harapannya, mereka dapat menjadi pelestari budaya yang mampu meneruskan warisan leluhur kepada generasi berikutnya,” ujar Indah.
Ia menambahkan, Permadani Tuban berkomitmen mencetak alumni yang tidak hanya memahami adat istiadat, tetapi juga mampu menjadi teladan budaya di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Indah juga mengingatkan pentingnya sikap ladosing bebrayan atau kemampuan beradaptasi dan hidup harmonis dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai tersebut, kata dia, berlandaskan ajaran Tri Niti Yogya yang meliputi Memayu Hayuning Bawana (menjaga keselamatan dunia), Memayu Hayuning Sasama (mengasihi sesama), dan Memayu Hayuning Awak (mawas diri).
“Warga Permadani harus memiliki jiwa besar dan mampu menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi. Ilmu yang diperoleh di Permadani hendaknya menjadi bekal dalam menjalani kehidupan bermasyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Seni Budaya DPD Permadani Tuban, Nanang Ferianto, memberikan materi mengenai penggunaan busana adat Solo Basahan dan Solo Putri, termasuk penerapannya baik di lingkungan keraton maupun di luar keraton.
Nanang menjelaskan bahwa pemahaman terhadap tata busana adat merupakan bagian penting dalam menjaga marwah budaya sekaligus identitas organisasi. Dengan bekal tersebut, warga Permadani diharapkan mampu menjadi contoh bagi generasi muda dalam menjaga dan melestarikan budaya Jawa di berbagai daerah.
Melalui penyelenggaraan PKL ini, Permadani Tuban menegaskan komitmennya dalam memperkuat regenerasi pelaku budaya, sekaligus memastikan nilai-nilai luhur tradisi Jawa tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman. [J2]








