LAMONGAN | DN — Angin sore berembus pelan di sudut Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan. Namun, langit di atasnya tampak lengang. Tidak ada lagi siluet warna-warni yang menari disapu angin, tak ada pula sorak-sorai pemuda yang saling adu tangkas menerbangkan bentangan kertas dan bambu.
Di dalam sebuah warung kopi, riuh suara itu berpindah ke dalam genggaman. Jemari anak-anak muda sibuk menggeser layar ponsel cerdas, berburu koneksi Wi-Fi demi menuntaskan permainan daring (game online).
“Saya kurang tertarik main layangan, Om. Capek lari-larian. Mending ngopi sambil nyari Wi-Fi buat main game online,” tutur Robi, seorang pemuda setempat, saat dijumpai di sela-sela aktivitas digitalnya.
Fenomena ini menjadi gambaran kecil dari meredupnya tradisi layang-layang—atau yang kerap disapa wau—di kalangan generasi muda. Padahal, permainan ini bukan sekadar hiburan pelepas penat, melainkan warisan budaya bernilai sejarah tinggi. Indonesia bahkan mencatatkan sejarah dunia melalui Kaghati Kolope, layang-layang tertua di dunia asal Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, yang diperkirakan telah ada sejak 4.000 tahun lalu.
Ahmad, seorang pengerajin layang-layang tradisional yang juga ditemui di lokasi yang sama, mengungkapkan keprihatinannya atas pergeseran gaya hidup ini. Menurutnya, perkembangan teknologi gadget menjadi benteng terbesar yang memisahkan generasi muda dari alam terbuka.
“Faktor utamanya jelas kemajuan teknologi dan maraknya game online. Selain itu, lahan terbuka untuk menerbangkan layangan kini makin terbatas. Bermain layangan juga butuh keahlian membaca angin dan kewaspadaan ekstra, apalagi kalau ukuran big size (besar), risikonya lumayan tinggi jika putus,” jelas Ahmad.
Padahal, di balik sebilah bambu yang diraut dan selembar kain yang direntangkan, tersimpan filosofi mendalam. Di Bali, layangan seperti Bebean dan Janggan bukan cuma mahakarya seni visual, melainkan simbol rasa syukur agraris dan penghormatan kepada sang pencipta.
Mengepakkan kembali sayap tradisi ini membutuhkan dorongan kolektif. Festival budaya, perlombaan lokal, hingga edukasi meraut kerangka bambu di sekolah-sekolah menjadi kunci agar generasi muda tidak kehilangan akar budayanya. Selain melatih motorik dan interaksi sosial secara nyata, pelestarian ini terbukti mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan melalui UMKM pengerajin lokal.
Menerbangkan layang-layang adalah tentang melatih kesabaran, membaca arah angin, dan mengagumi luasnya cakrawala—sebuah pengalaman sensorik yang tak akan pernah bisa digantikan oleh piksel di layar genggam. Saatnya generasi muda kembali menengadah ke atas, menjemput angin, dan memastikan kebanggaan Nusantara ini tetap mengangkasa.
Penulis: Satria DSP
Editor: Redaksi MDN








