SOLOK | DN – Malam sunyi di kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, mendadak berubah mencekam pada Senin (21/9/2026) lalu. Hujan lebat yang mengguyur sejak sore memicu amukan alam berupa banjir bandang atau galodo yang membawa material batu, lumpur, dan kayu dari hulu Sungai Batang Laso. Di tengah kepanikan massal saat material merangsek hingga kawasan perkantoran Pemkab Solok dan badan jalan utama, kehadiran aparat kepolisian langsung menjadi mercusuar harapan bagi warga.
Tidak butuh waktu lama bagi jajaran Kepolisian Resor (Polres) Solok bersama Satbrimob dan Dit Samapta Polda Sumbar untuk bergerak. Dipimpin langsung oleh Kapolres Solok AKBP Rini Anggraini, SS, S.I.K., aparat gabungan langsung berjibaku menembus kegelapan malam untuk melakukan evakuasi darurat, pencarian korban, hingga pengamanan jalur vital.
Ada pemandangan yang berbeda di Mapolres Solok pasca-bencana malam itu. Alih-alih hanya berfungsi sebagai markas penegakan hukum, kompleks kepolisian tersebut disulap menjadi ruang perlindungan yang hangat bagi puluhan warga yang kehilangan tempat berteduh sementara.
Berdasarkan pendataan awal, sekitar 50 warga, termasuk anak-anak dan lansia, dievakuasi ke Mapolres Solok serta beberapa titik aman lainnya seperti Rumah Dinas Wakil Bupati Solok dan Kantor DPD Partai Golkar. Untuk memastikan kesejahteraan para pengungsi selama masa tanggap darurat, Polri turut mendirikan posko kesehatan, dapur lapangan, hingga layanan trauma healing guna memulihkan kondisi psikologis warga yang terpukul akibat bencana.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko menegaskan bahwa komitmen Polri di lokasi bencana melampaui sekadar pengamanan fisik.
“Polri hadir bukan hanya ketika masyarakat membutuhkan pertolongan untuk dievakuasi, tetapi juga untuk memastikan warga tetap mendapatkan pelayanan terbaik selama masa tanggap darurat. Mulai dari SAR, pembersihan material, layanan kesehatan, dapur lapangan, hingga trauma healing dan posko pengungsian kami siapkan secara terpadu,” ujar Brigjen Pol Trunoyudo.
Di lapangan, operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) berjalan penuh tantangan. Kekuatan masif dikerahkan, termasuk 2 SSK Tim SAR dari Mako Padang Sarai dan 1 peleton dari Yon B Padang Panjang, lengkap dengan puluhan perangkat evakuasi modern, kendaraan water treatment, hingga alat berat seperti ekskavator dan wheel loader untuk membuka akses yang tertimbun material setinggi puluhan sentimeter hingga lebih dari setengah meter.
Sejumlah fasilitas publik, mulai dari Kantor Dinas PUPR, DPRD, Bapenda, hingga Masjid Kayu Aro turut terdampak material longsor. Sementara itu, pendataan korban mencatat empat warga mengalami luka-luka—dengan satu korban rujukan bernama Muhammad Nur Zen (56) yang mengalami fraktur—serta dua warga lainnya, yakni Dafi Arahman (21) dan Agusra (59), yang hingga kini masih dalam pencarian intensif tim gabungan.
Hingga berita ini diturunkan, aparat gabungan masih terus bekerja keras menyisir area terdampak dan membersihkan sisa material lumpur. Polri terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem susulan serta senantiasa mematuhi instruksi petugas di lapangan demi keselamatan bersama. [Yud/Red]








