Belum diketahui apakah seluruh warga etnis Rohingya yang tiba itu merupakan pengungsi atau tidak. Namun sebagian dari mereka menunjukkan kartu pengungsi yang diterbitkan oleh Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR).
Menurut Husni, warga setempat tidak dapat menahan kesedihan saat mendengar tangis anak-anak dan bayi saat hari beranjak malam.
“Kasihan kita melihat mereka. Kemarin malam saya tidur di sini, anak-anak menangis semua. Bahkan ada saya ayun anak-anak bayi itu. Tidak tega saya,” ucapnya.
Husni berharap agar pemerintah segera memindahkan mereka ke tempat yang lebih baik.
“Kalau mereka bisa dikembalikan, ya dipulangkan saja. Kalau tidak dikembalikan tapi tolong cari tempat yang layak untuk menampung mereka sementara,” katanya.
Warga Desa Kwala Besar lainnya, Maulida Anisa, mengatakan tetap berharap pemerintah memberi arahan yang tegas untuk mengatasi tibanya pengungsi seperti yang terjadi saat ini. Warga, ujar Anisa, tidak keberatan memberikan bantuan, “tetapi pemerintah harus tegas. Kami memang menentang Rohingya di sini. Tapi kalau dilihat kondisi anak-anaknya pada kasihan. Cuma kalau bisa jangan menetap di sini.”
Salah seorang pengungsi, Mohammed Sayed (usia 24) mengaku masyarakat lokal telah banyak memberikan bantuan kepada mereka. “Masyarakat lokal membantu dan kami sangat senang,” ujarnya seraya menceritakan bagaimana kelompok mereka melakukan perjalanan dari kamp pengungsi di Cox’s Bazar pada 6 Desember 2023 menggunakan kapal. Saat ini kapal yang membawa mereka dari Bangladesh ke Indonesia telah rusak parah dan karam.










