Politik Misogini Menguat di Pilpres 2024, Ciri Erosi Demokrasi?

  • Whatsapp
Ketua Umum PDI-P Megawati Sukarnoputri dan putrinya, Puan Maharani, yang saat itu menjabat Menko Pembangunan Manusia dan Budaya, menghadiri pelantikan Presiden Joko Widodo di Gedung DPR/MPR, 20 Oktober 2019. (Foto: Adek Berry/Pool Photo via AP)

Kampanye pemilu presiden 2024 mulai memanas.  Pertarungan elit politik dan para pendukungnya tidak saja sebatas gagasan dan program, tetapi juga peran tradisional gender.  Bias dan prasangka buruk terhadap perempuan, atau dikenal sebagai misogini, ikut mewarnai pemilu presiden kali ini.

“Di dalam banyak kasus, suami-suami yang terjerumus dalam korupsi itu karena istrinya tidak baik. Banyak koruptor-koruptor itu, yang sekarang masuk penjara, karena tuntutan istrinya. Gajinya cuma Rp20 juta, belanjanya Rp50 juta. Gajinya cuma Rp2 juta, belanjanya Rp5 juta, yang dituntut dari suaminya. Suami tidak punya pekerjaan lain, terpaksa korupsi, ngutip sana, ngutip sini. Itu karena ibu-ibunya.”Inilah petikan pernyataan calon wakil presiden nomor urut tiga, Mahfud MD, saat berbicara di sebuah acara di Kota Padang, Sumatera Barat, 17 Desember lalu, yang memicu kontroversi dan menimbulkan kemarahan sejumlah aktivis perempuan.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Upaya Mahfud MD mengklarifikasi hal itu di The Hermitage, Jakarta pada 22 Desember, tidak menyurutkan kemarahan mereka.

Budaya Stereotip

Mahfud bukan satu-satunya tokoh masyarakat yang mengeluarkan pernyataan yang kental bias gender seperti ini.

Sebelumnya beberapa tokoh lain, dan bahkan media, menjuluki Ketua Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) Megawati Sukarnoputri sebagai sosok yang ambisius, keras, dan dominan karena ia menentang wacana perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode, atau berani berbeda pendapat di depan publik.

Dalam kasus indikasi campur tangan orang kuat dalam keputusan Mahkamah Agung yang mengubah aturan hukum tentang batas usia minimal seorang calon presiden dan wakil presiden, dan kemudian memuluskan jalan bagi putra Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka menjadi cawapres, kemarahan publik mengarah pada Ibu Negara Iriana. Sejumlah media secara terang-terangan menyebut Iriana sebagai dalang yang menggunakan berbagai cara untuk memuluskan langkah putranya.

Ibu Negara Iriana (kedua dari kiri) menjajal LRT saat upacara peresmian di Stasiun Cawang, Jakarta, 28 Agustus 2023. (Foto: Bay Ismoyo/AFP)
Ibu Negara Iriana (kedua dari kiri) menjajal LRT saat upacara peresmian di Stasiun Cawang, Jakarta, 28 Agustus 2023. (Foto: Bay Ismoyo/AFP)

Mendiang Kristiani Herrawati, atau akrab disapa sebagai Ibu Ani Yudhoyono, juga pernah disebut sebagai perempuan ambisius ketika mendorong pencalonan putranya, Agus Harimurti, sebagai calon presiden pada 2017.

Jika melihat era Orde Baru, Ibu Negara Tien Soeharto ketika itu juga kerap dituding sebagai sosok yang merancang berbagai keputusan, mulai dari proyek pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, pemberlakuan PP Nomor 10/Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang disebut sebagai aturan anti-poligami, hingga penunjukkan dan pemberhentian pejabat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *