“Akhirnya ini yang mendorong saya untuk, bukan mengobati homesick sih, tapi lebih ke, ibaratnya kayak setelan pabriknya orang indonesialah, terutama buat saya ya, bulan Ramadan itu selalu bulan dimana sering ketemu temen, sering ngumpul, ya bisa dibilang nongkrong sembari ibadahlah, ingin ikut membantu menyukseskan Ramadan di IMAAM ini,” ujar Faris kepada VOA.
Selama tinggal di Amerika, lulusan S1 jurusan hukum dari Universitas Indonesia ini mengaku belum pernah menemukan tempat lain yang mengadakan acara buka puasa dengan nuansa Indonesia.
Mulai dari makanan yang disediakan seperti rendang, karedok, bubur kacang hijau yang langka di Amerika, hingga para jemaah yang hadir, yang hampir seluruhnya warga Muslim Indonesia.
“Jadi inilah tempat yang tepat buat saya untuk aktiflah di bulan puasa ini sebagai Muslim Indonesia,” ucap Faris

.
Berkumpul dengan sesama muslim Indonesia juga mendorong Faris untuk merencanakan berbagai kegiatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya di Amerika, namun merupakan kegiatan yang cukup lazim di Indonesia.
“Saya sama teman-teman mau meng-organize, Insha Allah pengin coba minggu ini, dan ini cukup menantang, karena belum pernah ada di Amerika sebelumnya, tapi sering diadakan di Indonesia,” ujar Faris.
“Jadi kita mau coba, malam-malam habis salat Tarawih, bagi-bagi makan ke orang homeless misalnya, selebihnya kita bisa hangout atau kita bisa itikaf sambil ngaji, tapi yang penting ngumpul,” tambahnya.
Terkait bulan Ramadan, Faris berharap Ramadan kali ini bisa mendatangkan berkah dan menjadi “momen kebangkitan spiritual.”
Andriana dan Satrio juga saling menyemangati sesama Muslim dalam beribadah dengan konsisten, juga tidak lupa untuk melakukan hal-hal yang baik.
“Pokoknya tetap semangat dan jangan malas-malas ke masjid, dan banyak-banyak bikin doa untuk saudara seiman kita yang ada di Gaza, yang ada di Yemen, yang Rohingya, semua umat muslim di dunia yang sedang tertindas, tetap libatkan mereka dalam doa kita,” pungkas Satrio. [Red]#VOA









