Rindu Kebersamaan Ramadan, Diaspora Indonesia di AS Jadi Sukarelawan, Hadiri Buka Puasa Gratis di Masjid

  • Whatsapp
Diaspora Muslim Indonesia, Andriana Wirrotama (mengenakan baju merah) bersama teman-teman di acara buka puasa bersama di masjid IMAAM Center, Maryland (dok: Andriana Wirrotama)

Biasa menjalani ibadah Ramadan bersama keluarga, untuk pertama kalinya, Andriana Wirrotama yang berdomisili di Maryland sejak 2019 lalu harus melalui bulan Ramadan seorang diri.

Pasalnya, ayah Andriana yang ditugaskan di Amerika belum lama ini kembali ke Indonesia bersama ibu dan adiknya, karena masa tugasnya sudah berakhir.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Mahasiswi S1 jurusan kesehatan masyarakat di University of Maryland ini mengaku rindu akan masakan ibunya, juga beribadah bersama keluarganya.

“Kalau ada mama, makanan buka puasa sudah ada, terus masaknya biasanya bareng-bareng, bukanya juga bareng-bareng. Kita juga pas Ramadan tahun lalu a juga sering keliling DMV (DC-Maryland-Virginia) untuk nyari-nyari masjid gitu, dan kita ganti-gantian salatnya. Misalkan di masjid di Virginia hari Sabtu, terus masjid di Maryland hari Minggu,” cerita Andriana.

Acara buka puasa bersama yang diadakan masjid Indonesia IMAAM Center di Silver Spring, Maryland terbuka untuk umum (dok: VOA)
Acara buka puasa bersama yang diadakan masjid Indonesia IMAAM Center di Silver Spring, Maryland terbuka untuk umum (dok: VOA)

Untuk mengobati rasa rindu akan kebersamaan di bulan Ramadan, Andriana pun kerap pergi ke masjid Indonesia IMAAM Center di Silver Spring, Maryland untuk sesekali menghadiri acara buka puasa, serta berkegiatan bersama teman-teman sesama muslim.

“(Aku mendekatkan diri dengan orang-orang) yang juga puasa sih, jadi bikin ramai. Misalkan seperti baca Alquran bareng-bareng sama teman, tadarusan bareng sama teman-teman,” jelas Andriana.

“Karena di IMAAM itu disiap(kan). Ada program untuk Zoom tadarus bareng-bareng. Biasanya Senin sampai Rabu. Satu jam sebelum buka, mungkin dari jam 6-7an,” tambahnya.

Salat tarawih bagian perempuan di masjid Indonesia IMAAM Center di Silver Spring, Maryland (dok: Andriana Wirrotama)
Salat tarawih bagian perempuan di masjid Indonesia IMAAM Center di Silver Spring, Maryland (dok: Andriana Wirrotama)

Andriana juga kerap mengikuti salat Tarawih di masjid Indonesia IMAM Center, yang menurutnya memiliki suasana yang berbeda dengan di Indonesia. Tidak hanya itu, ada hal-hal lain yang ia rindukan dari menjalankan ibadah bulan Ramadan di Indonesia, yang tidak bisa ia dapatkan di Amerika.

“(Di Indonesia) kan banyak anak-anak. Biasanya anak-anak pada main benteng kan, kalau misalnya di masjid Indonesia. Terus buka bersama sama keluarga besar aku juga kangen, terus undangan buka puasa sana-sini, itu yang aku kangen. Beli-beli takjil di pinggir jalan aku juga kangen, kalau di Indonesia lebih festive, lebih ramai,” ceritanya.

Teman-teman kuliah Andriana yang non-Muslim pun ikut menyemangatinya dalam berpuasa dan kadang menemaninya berbuka puasa.

“Teman-teman aku ada yang orang Hispanik, ada yang orang putih, Philippine, mereka mau banget ‘oh iya, gue mau puasa, buat gara-gara nemenin lo. Kita buka puasa bareng, yuk.,” papar Andriana.

“Dan bahkan mereka juga take the time out of their day untuk mempelajari Ramadan itu apa. Apa yang muslim dianjurkan untuk lakukan selama Ramadan,” lanjutnya.

Faris Reyhan Zachary Pohan (kanan) saat berbicara di sebuah acara di masjid Indonesia IMAAM Center di Silver Spring, Maryland (dok: Faris)
Faris Reyhan Zachary Pohan (kanan) saat berbicara di sebuah acara di masjid Indonesia IMAAM Center di Silver Spring, Maryland (dok: Faris)

Tahun ini adalah Ramadan ke-3 di Amerika bagi Faris Reyhan Zachary Pohan. Sebagai ketua departemen pemuda di masjid IMAAM Center di Maryland, Faris mengaku banyak bertemu teman baru di masjid, yang juga merantau dan menjalani bulan Ramadan tanpa keluarga seperti dirinya.