“Bersama saudara-saudara dan anak saya, saya bekerja di sini. Selama bulan Ramadan kami bekerja 24 jam, nonstop, membuat pitalka untuk berbuka puasa, untuk sahur. Ayah dan kakek saya memiliki profesi yang sama. Selama 15 tahun terakhir kami bekerja di toko roti ini,” jelasnya.
Piltaka pada prinsipnya mirip pita — roti berongga pipih yang dapat dibelah untuk menampung isian. Roti ini biasanya dihadirkan dalam bentuk bulatan dan ditaburi biji wijen. Aroma roti yang baru dipanggang, menurut para penggemarnya, dapat tercium hingga beberapa meter jauhnya sehingga menggugah selera makan.









