Dalam kampanyenya, Prabowo mengatakan kepada pemilih muda, “Dunia ini milik kalian, milik generasi muda.”
Namun saat ia berkampanye, sekelompok demonstran di dekat Istana Negara yang mencoba meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masa lalu sang jenderal dengan meneriakkan, “Hidup para korban, jangan pernah diam.”
Pada 1998, Prabowo diberhentikan dari militer. Dia diduga memerintahkan penculikan aktivis pro-demokrasi dan belasan dari mereka masih hilang. Dia juga dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia terhadap ratusan warga sipil di Timor Timur yang kini disebut sebagai Timor Leste. Namun, Prabowo membantah semua tuduhan tersebut.
“Seorang pelanggar hak asasi manusia bisa mencalonkan diri sebagai presiden,” kata Petrus Hariyanto, seorang aktivis, kepada VOA.
Petrus Hariyanto berteman dengan aktivis pro-demokrasi Wiji Thukul. Penyair itu menghilang selama gelombang penculikan politik pada 1998 dan jejaknya tidak diketahui lagi sejak saat itu.
“Saya yakin tidak pantas jika seorang penculik aktivis dan pelanggar hak asasi manusia bisa mencalonkan diri sebagai presiden,” imbuhnya.
“Saya takut banget kalau Prabowo terpilih,” kata Stephanie Iskandar, seorang aktivis mahasiswa.









