
Pesan Terakhir Ismail Haniyeh: ‘Jika Seorang Pemimpin Pergi, yang Baru akan Muncul’

Pada Mei, kantor kejaksaan Pengadilan Kriminal Internasional atau ICC meminta surat perintah penangkapan untuk tiga pemimpin Hamas termasuk Haniyeh, serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Mereka ditangkap karena dugaan kejahatan perang. Para pemimpin Israel dan Palestina menepis tuduhan tersebut.
Haniyeh adalah pemimpin Hamas ketiga yang dibunuh oleh Israel selama dua dekade terakhir. Sebelumnya, Israel membunuh Sheikh Yassin dan penggantinya Abdel-Aziz al-Rantissi dalam waktu satu bulan dalam serangan udara helikopter pada 2004.
Khaled Meshaal, yang diperkirakan akan menggantikan Haniyeh sebagai pemimpin, lolos pada 1997 dari upaya pembunuhan yang diperintahkan oleh Netanyahu, tetapi gagal.
Adeeb Ziadeh, seorang spesialis dalam urusan Palestina di Universitas Qatar, mengatakan Hamas adalah sebuah ideologi dan pembunuhan Haniyeh tidak akan menghabisi kelompok tersebut atau membuatnya menyerah.
Israel mengatakan pada Kamis bahwa Mohammed Deif, salah satu dalang serangan 7 Oktober, tewas dalam serangan udara Israel di Gaza pada bulan lalu. Saleh Al-Arouri, salah satu pendiri sayap militer Hamas, juga tewas dalam serangan pesawat nirawak Israel di pinggiran selatan Beirut pada Januari 2024.
Kekuatan Militer
Piagam pendirian Hamas 1988 menyerukan penghancuran Israel, meskipun para pemimpin Hamas terkadang menawarkan gencatan senjata jangka panjang dengan Israel sebagai imbalan atas negara Palestina yang layak di semua wilayah Palestina yang diduduki oleh Israel dalam perang 1967. Namun Israel menganggap hal itu sebagai tipu muslihat.
Dalam beberapa dekade sejak itu, Hamas menembakkan ribuan roket ke Israel dan berperang beberapa kali dengan tentara Israel sambil terus membangun barisan dan kekuatan militernya. Hamas juga mengirim pengebom bunuh diri ke Israel pada 1990-an dan 2000-an.








