Patung ogoh-ogoh setlah diarak keliling desa kemudian dikumpulkan di lapangan desa, setelah hampir matahari terbenam sekitar pukul 17.00 WIB, untuk semua patung ogoh-ogoh selanjutnya dibakar.
Dari penuturan yang kami peroleh dari Pemangku Pura Sweta Maha Suci, Ngarijo, Ogoh-ogoh itu merupakan pengambaran gambarkan Buto sebagai lambang nafsu. “Sebelum melaksanakan Nyepi, 9 Ogoh-ogoh terdiri dari 8 besar untuk dewasa dan 1 kecil buat anak-anak kami arak keliling kampung. Kemudian dibakar di lapangan desa,” jelas Ngarijo.
Sementara itu, dalam sambutan sebelum pembakaran ogoh ogoh, Kepala Desa Balun, H. Khusyairi, menyampaikan terlaksananya pawai ogoh-ogoh peringatan hari raya nyepi ini adalah berkat kerja sama pemerintah desa serta tokoh lintas agama di Desa Balun.








