Perang Israel-Hamas, Rusia-Ukraina dan Sudan Jadi Fokus Sidang PBB

  • Whatsapp
Suasana Sidang Majelis Umum PBB di New York yang dibuka oleh Presiden UNGA Philémon Yang dari Kamerun di Markas PBB, Kota New York, Selasa, 24 September 2024. (Foto: Angela Weiss/AFP)

Guterres menggunakan istilah itu untuk menggambarkan negara yang merasa dapat melakukan apa saja tanpa perlu mengikuti aturan hukum atau takut dengan konsekuensi hukum. Ia tidak memerinci negara yang dimaksudnya.

“Mari kita majukan dunia menuju pengurangan impunitas dan peningkatan akuntabilitas. Mengurangi kesenjangan dan meningkatkan keadilan. Lebih sedikit ketidakpastian dan lebih banyak peluang,” tegas Guterres.

Sementara Presiden Joe Biden, yang menyampaikan pidato untuk terakhir kalinya sebagai orang nomor satu di Amerika Serikat (AS) dalam forum ini, menggarisbawahi urgensi aliansi dan dukungan AS bagi Ukraina saat melawan invasi Rusia.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Kita tidak boleh menjadi lengah. Kita tidak boleh berpaling. Kita tidak akan berhenti mendukung Ukraina. Tidak akan pernah, sampai Ukraina memenangkan perdamaian yang adil dan abadi berdasarkan Piagam PBB,” kata Biden.

John Fortier, peneliti senior di American Enterprise Institute, mengatakan kepada VOA bahwa kecil kemungkinan Biden akan mencapai target menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina di masa pemerintahannya.

“Sepertinya konflik ini akan terus berlanjut dan terus berlanjut setelah masa kepresidenannya,” katanya.

“Jadi, ini merupakan seruan untuk menyelesaikan konflik yang telah mengganggu dirinya dan pemerintahannya, setidaknya pada sebagian masa pemerintahannya. Namun sepertinya konflik ini (Ukraina dan Gaza) tidak akan selesai dalam masa pemerintahannya ini.”

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *