Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno mengatakan penggunaan mobil listrik untuk mudik memiliki sejumlah tantangan. Ia menjelaskan, meskipun jumlahnya sudah ditambah, SPKLU umumnya terpusat di kota-kota dan tidak masuk ke desa-desa.
Maka dari itu, kata Djoko, pemerintah seharusnya mengembangkan kendaraan listrik ini untuk angkutan umum, bukan untuk kendaraan pribadi mengingat Indonesia saat ini sedang mengalami krisis transportasi massal.
“EV untuk angkutan umum saja dikembangkan, itu saya setuju dan manfaatnya banyak ketimbang mudaratnya. Kita itu (mengalami) krisis angkutan umum, coba sekarang dilihat kenapa masyarakat beberapa tahun sebelumnya dengan sekarang itu berbeda cara memilih untuk mudik? Itu sudah kelihatan pemerintah berhasil untuk memfasilitasi angkutan umum antar kota,” jelasnya.
Kereta antar kota bagus, bis antar kota bagus, jadi orang mau naik kereta dan bis, tidak mau naik kendaraan pribadi. Tetapi kok masih ada yang mau mudik menggunakan motor? Karena di daerahnya tidak ada angkutan umum, mau naik apa dia ke desa? Dulu di desa masih ada angkutan desa, sekarang hanya tersisa sedikit sekali. Itu beberapa tahun ke depan sudah punah angkutan desa di Indonesia,” tambahnya.
Menurutnya, kebijakan pemerintah untuk memberikan insentif atau subsidi bagi masyarakat yang ingin membeli mobil dan motor listrik pun tidak tepat. Dengan harga yang cukup mahal, masyarakat pun masih enggan beralih menggunakan kendaraan listrik.
“Sekarang subsidi Rp12,3 triliun untuk kendaraan listrik gak laku, karena orang gak ada yang mau beli. Kendala kendaraan listrik itu apa? Mahal dan SPKLU sulit. Kalau dia masuk ke desa-desa tidak ada SPKLU gimana? Pasti dia ada hanya di kota, di desa tidak ada,” pungkasnya. [Red]#VOA








