Para militan telah mendesak warga Palestina di seluruh Israel dan Tepi Barat yang diduduki untuk berbondong-bondong ke masjid selama bulan Ramadan untuk menentang pembatasan yang diantisipasi Israel terhadap kegiatan ibadah dan pergerakan.
Meskipun pembatasan tersebut sering kali memicu bentrokan di masa lalu, tidak jelas apakah warga Palestina akan mengambil risiko konfrontasi dalam kondisi saat ini di mana pasukan Israel menekan keras setiap tindakan yang dianggap sebagai ancaman.
“Ada ketakutan besar di kalangan masyarakat mengenai seperti apa Ramadan tahun ini dan bagaimana polisi Israel akan berperilaku ketika masuk dan keluar … ke dalam kota,” kata Imad Mona, pemilik toko buku di luar Kota Tua.
Israel telah membatasi akses ke Masjid Al-Aqsa dalam berbagai tingkatan selama bertahun-tahun, termasuk dengan melarang pemuda, dengan alasan masalah keamanan.
Pemerintah Israel tak banyak memberi perincian menjelang Ramadan tahun ini, yang mungkin dimulai pada Minggu (10/3) malam. Namun pihaknya mengatakan beberapa warga Palestina dari Tepi Barat akan diizinkan untuk salat di Al-Aqsa.
Kompleks ini telah lama menjadi tempat keagamaan yang sangat diperebutkan, karena terletak di Bukit Bait Suci, yang oleh orang Yahudi dianggap sebagai situs paling suci bagi mereka. Kota ini terletak di Yerusalem timur, bagian dari kota yang diduduki Israel selama perang Timur Tengah pada 1967 dan kemudian dianeksasi.
Palestina ingin menjadikan kota ini sebagai ibu kota negara mereka di masa depan.
Amerika Serikat (AS) dan mediator internasional lainnya telah mendorong gencatan senjata di Gaza bertepatan dengan awal Ramadhan. Namun belum ada terobosan.









