Usep pun lantas menilai pernyataan yang dilontarkan oleh Ketua KPU Hasyim Asyari yang mengharapkan publik bisa menoleransi KPU sebagai penyelenggara pemilu apabila nanti ditemukan berbagai kesalahan dalam pesta demokrasi ini.
“Jadi lebih ke minta kita untuk mengerti. Sebenarnya itu tidak elok ya diucapkan oleh ketua KPU sebagai orang nomor satu dalam penyelenggaraan pemilu ini. Kalaupun bisa mau kita mengerti kan juga tidak relevan pernyataannya, karena pemilu dengan desain yang sama, dengan undang-undang yang sama, dengan kerangka hukum yang sama juga sudah dilakukan di pemilu 2019 dan itu jauh lebih siap dibandingkan pemilu yang 2024 ini,” ungkap Usep.
Usep menyatakan bahwa Pemilu 2024 yang dipimpin oleh Hasyim Asyari ini merupakan pemilu yang terburuk pasca reformasi. Hal tersebut dilihat dari kinerja KPU sendiri, salah satunya sebagai Ketua KPU, Hasyim telah tiga kali dianggap melakukan pelanggaran etik oleh DKPP.
Selain itu, dari segi penerbitan peraturan, KPU juga dinilainya melanggar peraturan perundang-undangan, yakni di antaranya terkait calon perempuan, mempercepat mantan koruptor untuk mencalonkan dirinya sebagai caleg serta pembentukan daerah pemilihan.
“Jadi, ada yang bilang KPK itu hancur, dikerdilkan, dibunuh. KPK yang sekarang itu KPK paling buruk. KPU yang sekarang itu lebih buruk dari KPK, dari segi tataran kode etik dan kewenangan membuat peraturan,” pungkasnya. [Red]#VOA








