“Jika antara kuantitas dan kualitas sudah meningkat, dan mampu merebut pasar internasional dan dalam negeri, pada titik itulah kita mampu menyaingi serial-serial dari luar negeri seperti Korea dan negara-negara lain,” kata Dwi.
Lebih jauh Dwi mengatakan, menonton layanan streaming belum membudaya di Indonesia, mengingat sejauh ini hanya diakses sejumlah kecil masyarakat Indonesia.
Layanan streaming, menurutnya, memerlukan konektivitas internet yang cepat dan stabil, sementara konektivitas seperti itu hanya tersedia di kota-kota besar. Belum lagi biaya berlangganan layanan OTT yang relatif mahal, yang umumnya tidak terjangkau oleh masyarakat Indonesia pada umumnya.
“Biaya berlanganan Neflix, contohnya, untuk paket paling murah adalah Rp65.000 per bulan.” katanya.
Jika Indonesia ingin memajukan industri filmnya sehingga bisa bersaing dengan negara-negara lain, menurut Dwi, partisipasi pemerintah sepenuhnya sangat diperlukan. Dwi mengatakan, pemerintah Korea Selatan sangat intens memajukan industri film dengan berbagai cara, sementara pemerintah Indonesia seperrtinya masih bersikap setengah hati.
“Kami belum pernah mendapat dukungan yang benar-benar jadi perhatian khusus insan film,” kata Dwi.
Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Ratih Kumala, “Gadis Kretek” menorehkan sejarah besar dalam industri sinema Indonesia. Sewaktu dirilis di Netflix di penghujung 2023, drama seri lima episode ini ini sempat masuk daftar 10 teratas film yang paling banyak ditonton di dunia untuk acara televisi non-bahasa Inggris selama dua minggu berturut-turut.
Film ini juga sempat berada di peringkat 10 besar mingguan di tujuh negara: Indonesia, Malaysia, Chili, Rumania, Meksiko, Spanyol, dan Venezuela.
Tidak hanya itu, film ini juga banyak mendapat pujian para kritikus film. Di Festival Film Internasional Busan 2023, sutradaranya dianugerahi Visionary Director Award.
Menurut hasil studi terbaru Media Partners Asia, industri video di Indonesia diperkirakan akan tumbuh pesat dalam lima tahun ke depan karena layanan online akan mengambil alih pangsa pasar TV konvensional. Masih menurut lembaga riset yang berbasis di Singapura itu, total pendapatan industri video (TV gratis, TV berbayar, dan video online) diperkirakan akan tumbuh pada tingkat pertumbuhan rata-rata gabungan sebesar 8%. Para penelitinya memperkirakan pasar akan berkembang dari $2,5 miliar pada 2023 menjadi $3,7 miliar pada 2028. [Red]#VOA











Forum