“Karena dengan memproduksi lebih banyak karya seperti ‘Gadis Kretek’, akan ada lebih banyak orang yang mengenal kultur dan tradisi Indonesia,” katanya.
Menurut Putri, keberhasilan “Gadis Kretek” tidak lepas dari tema ceritanya yang relatable dengan banyak penonton, dan proses produksinya yang apik dan direncanakan matang. Film yang disutradrai bersama oleh pasangan suami-istri Kamila Andini dan Ifa Isfansyah ini menyorot perjuangan Dasiyah (diperankan Dian Sastrowardoyo), yang lahir dari keluarga pengusaha kretek, untuk mendobrak batasan dalam industri yang secara tradisional berpusat pada laki-laki.
Neflix sendiri kabarnya tak sungkan menghabiskan biaya besar untuk menjamin kualitas produksi. Media-media di Indonesia mengatakan, Netflix mengalokasikan sekitar US$250.000 hingga US$400.000 (sekitar Rp2,3 miliar – Rp6,1miliar) untuk masing-masing episode drama tentang industri rokok Indonesia pada 1960-an ini.
Putri sendiri tidak membenarkan atau membantah angka itu. Ia hanya mengatakan, karena Neflix eksis di 190 negara, yang artinya konsumennya mendunia, produksi platform ini terfokus pada dua hal, yakni kualitas produksi yang tinggi dan elevated storytelling. Yang disebut terakhir merujuk pada penceritaan yang tidak hanya merangkai informasi, tetapi juga membangkitkan emosi penonton
“Itu sudah harus menjadi DNA, konten-konten originalnya Netflix,” ujarnya.
Menurut Putri dan Dian, selain kualitas produksi yang sangat baik, dukungan pemerintah sangat dibutuhkan dalam memajukan industri film Tanah Air.
Dian sendiri mencontohkan apa yang terjadi di Korea Selatan, di mana pemerintahnya mengalokasikan dana investasi, serta secara aktif mempromosikan karya-karya domestik dan memberikan insentif, termasuk potongan pajak, kepada para pembuat film dan karya seni kreatif lainnya.
Menurut Dian, film dan karya-karya seni lain, seperti musik, adalah bagian dari diplomasi budaya (soft power) yang sangat dibutuhkan di dunia internasional dalam menggalang opini publik, yang bukan tidak mungkin pada gilirannya kelak akan menguntungkan Indonesia di sektor-sektor lain. Singkat kata, menurutnya, mengembangkan industri film sama halnya dengan mengembangkan diplomasi budaya
“Bila ibu di Afghanistan sudah mulai nge-fans sama BTS, ketika mereka punya extra income untuk membeli smartphone, mereka akan membeli smartphone produksi negara asal idola mereka. Kalau ‘Gadis Kretek’ laku di Argentina, restoran yang jualan nasi goreng atau klepon mungkin sudah ada pembelinya. Begitu juga kalau jualan kebaya,” katanya.
Putri mengatakan, dukungan pemerintah yang dimaksud Dian seharusnya juga mencakup perbaikan kualitas internet di Indonesia. Layanan OTT, katanya, hanya akan bisa meluas bila semakin banyak wilayah di Indonesia yang memiliki internet dengan konektivitas yang cepat dan stabil. Itulah juga alasan mengapa pelanggan Netflix hanya terbatas di Jakarta, dan kota-kota besar di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
“Jadi di mana broadband internet itu kuat, di situlah subscriber Netflix berada,” ujar Putri.
Menurut sejumlah pengamat, sebetulnya tidak hanya “Gadis Kretek” yang memicu perbincangan bahwa I-drama bisa jadi hal besar berikutnya setelah K-drama. Drama seri menegangkan “Katarsis” di layanan streaming Vidio dan drama seri komedi “Tilik” di WeTV juga disukai oleh banyak penonton lokal, dan banyak mendapat pujian para kritikus film.
Namun, kemampuan Indonesia untuk bisa bersaing dengan K-drama, menurut Dwi Nugroho, masih memerlukan waktu panjang. Dosen film Institut Seni Yogyakarta dan kritikus film montasefilm.com ini mengatakan, dari segi kualitas, Indonesia mungkin bisa bersaing, tetapi dari segi kuantitas masih tertinggal.









